Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Refleksi Setengah Perjalanan: Nyanyian sebagai ujian ketotalitasan demi pembuktian sebuah komitmen!




“Garuda maju di HIMA
Bukan karna ingin kuasa
Tapi karena
Hanya ingin tuk mengabdi”


Sebuah nyanyian yang digubah dari lagu netral yang berjudul Garuda di Dadaku.
Sebuah lagu yang pertama kali dinyanyikan saat kampanye dialogis yang menjadi salah satu acara rangkaian kegiatan pemilihan mahasiswa raya PGSD 2010 untuk memilih pimpinan tertinggi hima 2011.
Sebuah lagu yang menjadi jargon kampanye salah satu pasangan calon ketua dan wakil ketua HIMA PGSD 2011. Ya itulah jargon pasangan garuda, galih karo huda.
Sebuah lagu yang yang diciptakan dengan makna yang begitu dalam karena mengandung niatan dan tujuan kami. Ya, “kita maju di Hima untuk mengabdi dan melayani, Da!” itulah rangkaian kata yang ditawarkan dan membuat aku sepakat maju mendampingi mas galih suci pratama.
Mungkin pencalonan ku menjadi sebuah tanda Tanya besar, diragukan sehingga banyak yang meremehkanku. Akupun merasakan hal itu karena aku hidup di lingkungan PGSD baru 5bulan dan terasa “kewanen”. Akan tetapi karena kepercayaan mas alih dan dukungan teman-teman, aku tetap emberanikan diri untuk tetap berdiri untuk mendampingi mas galih. Aku berdiri karena sesuatu yang penting, ada yang lebih penting dari hanya sekedar mewakili individu atau kelompok tertentu. Aku berdiri disini karena sesuatu yang paling penting, yaitu untuk mencari ridha Allah SWT. Sehingga, aku berdiri disana dan melakukan semua ini harus dilakukan atas dasar keikhlasan.
Dua setelah lagu itu dikumandangkan untuk pertama kalinya di bumi PGSD, maka PGSD memilih dan kamipun menjadi pasangan terpilih dengan selisih suara yang cukup besar. Sejak saat itu, komitmen dan totalitas kami untuk mengabdi diuji. Aku pun memohon kepada Allah SWT agar tetap diberi petunjuk dan kekuatan untuk menjalankan amanah ini, sehingga komitmen dan totalitas kami sejalan dengan jalan Allah yang luas dan lurus. Dan pada akhirnya aku berharap kami dapat melanyani teman-teman PGSD dengan baik.

Hidup ini berubah
Selang beberapa waktu, karena kegiatanku semakin banyak, sedikit demi sedikit hidupku berubah. Waktu tidurku berkurang, waktu bersama-sama dengan teman seangkatanku semakin sedikit, pola makanku tak teratur, pengeluaran bertambah sehingga untuk mengatasi hal tersebutaku mengurangi uang jatah makanku. Dan pada akhirnya aku lebih bersahabat dengan cacing-cacing karena perut ini jarang diisi.
Aku pun sadar. Memang dalam meutuskan dan melakukan sesuatu ada akibat yang harus ditanggung. Akupun mencoba menanggung akibat itu. Aku mencoba untuk beradaptasi dengan keadaan. Aku pun membuat jadwal untuk memanage waktu agar kehidupanku kembali seimbang.
Akan tetapi penjadwalan itu tak mampu berbicara banyak, jadwal banyak berubah karena harus menyesuaikan dengan kegiatan-kegiatan yang harus diikuti, dihadiri dan dilaksanakan. Akupun sadar bahwa jadwalku sekarang dijadwal oleh orang banyak, inilah jadwal social! Inilah kerja social!
Kehidupan yang berubah karena kerja social, menimbulkan banyak pengorbanan. Berkorban waktu, kulian, tempat tinggal, pikiran, harta dan teman. Semua itupun mampu aku terima karena aku sadar bahwa inilah sebuah konsekuensi logis bila aku benar-benar ingi mengabdi!

Korban Tempat Tinggal dan teman seperjuangan!

Mengorbankan tempat tinggal dengan meninggalkan kosku yang lama dan tinggal di PKM. Dari sana aku meninggalkan sebuah keluarga tentara yang kecil namun terlihat bahagia dan meninggalkan teman-teman seperjuangan, teman kos yang mampu menenangkan hatiku saat galau, menyenangkan hatiku saat aku merasa suntuk, dan mampu menghiburku saat aku sedih. Tapi sekali lagi,, aku tidak meninggalkan kalian karena seperti anggapan kebanyakan orang bahwa seseorang akan lupa dengan teman lama setelah ia mendapatkan teman baru. Akan tetapi aku masih mengingat kalian, mengingat saat-saat bersama kalian, menghabiskan waktu untuk bercanda dan tertawa bersama(nice experience with you, my brothers!).
Sadarlah teman-teman, inilah tuntutan seseorang bila ingin amanah yang diembannya dapat diselesaikan dengan baik. Ia harus mencurahkan semuanya, berfikir sungguh-sungguh dan melakukan sesuatu dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab. Sekali lagi, aku tidak mau melupakan kalian, apalagi meninggalkan kalian. Kita masih bisa menghabiskan waktu bersama, tapi dengan perencanaan yang matang dan diagendakan jauh-jauh hari. Ayo, ke pantai lagi, ayo kita lakukan kegilaan-kegilaan itu lagi!!!

Korban barang berharga
Dalam menjalankan tugas guna menyelesaikan amanah ini, tak jarang aku harus mengorbankan diri untuk tidak makan, agar uang saku bisa digunakan untukmenjalankan, memenuhi undangan dan menjadi delegasi perwakilan di luar jurusan. Bukan hanya hal itu, mengorbankan barang berharga bukanlah hal yang asing lagi bagiku. Menjual barang sampai barang dicuri pernah aku alami dalam menjalankan tugas dari teman-tean PGSD ini.
Sebenarnya tak masalah apabila barang itu hilang. Akan tetapi ada kekecewaan tersendiri apabila barang tersebut hilang dicuri. Pencurinya pun seseorang yang ada di sekitar kita, entah siapa, entah ia mengakui aku sebagai temannya apa bukan. Yang aku tahu, seorang teman tak akan mengambil barang milik temannya tanpa ijin, alian MENCURI! Barang yang dicuri pun beragam, satu hape, uang saku dari orang tua, kehilangan STNK motor pinjaman sampai charger netbook dan hapeku hilang tak berbekas!

Apakah Pencuri mengaku beriman dan butuh teman?
Barang berharga yang menjadi hartaku untuk hidup di rantau orang pun akhirnya hilang dicuri orang. Satu hape sudah aku ikhlaskan pada bulan Maret lalu, saat aku masih awal-awal tinggal di PKM. Sempat tidak terima dengan kejadian ini, aku coba sadarkan diri dengan meikhlaskan diri dan membeli hape dengan tipe yang sama(jika malingnya baca: harga hapenya 180rb. Murah to, ling? :P). Memang sejak awal kehilangan hape ini aku tidak menunjukkan rasa sedihku, frustrasiku bahkan depresiku. Karena aku tahu, apabila aku mengalami hal-hal seperti itu, sang pencuri pasti akan puas dan senang atas apa yang diperbuatnya terhadapku.
Pengorbanan harta berharga pun berlanjut, tepatnya pada tanggal 15Juli 2011 aku menjadi korban pencurian lagi. Kali ini, uang saku Rp 250rb, STNK motor pinjaman dan charge laptop dan charger Hape yang dicuri. Padahal sekitar 2,5minggu yang lalu aku baru saja kehilangan sepeda motor saat dipakai oleh kedua orang tuaku sholat shubuh di masjid.
Kejadian ini berawal pada hari Kamis, 14 Juli 2011 Malam setelah aku berdiskusi dengan beberapa rekan terkait dengan pelaksanaan kegiatan orientasi mahasiswa baru PGSD. Diskusi tersebut berakhir sekitar jam sebelas malam, lalu aku keluar ke ujayNet untuk ngeprint tugas seni drama dan tari. Setelah itu mengantar tugas tersebut ke kos seorang teman yang baik hati, Ahmad Bukhori, Nuki, Wisnu dan Fadly. Sekitar pukul 12 malam aku pulang dari kos mereka.
Sesampainya di PKM aku tidak langsung tidur akan tetapi menaruh tas yang berisikan dompet dan menmpatkan laptop dan hape diatas meja kerja HIMA lalu mengerjakan Standar Operasional Proseduran Orentasi Mahasiswa Baru PGSD. Sampai pukul 2 dini hari, aku merasa kantuk dan lelah karena seharian menjalani aktifitas yang sangat padat, aku memutuskan untuk tidur. Aku lepas charger hape dan laptop, aku bawa hape dan netbookku ke dalam lemari, tanpa membawa charger dan tas yang berisi dompet tadi. Aku pun tertidur di balik almari dan membelakangi meja kerja hima. Tidur dibalik almari yang menjadi pebatas ruang membuat diriku tidak dapat melihat meja kerja HIMA.
Keesokan harinya, Karena tidur terlalu larut, aku bangun sedikit siang. Setelah bangun aku pun segera membersihkan diri dan sholat shubuh. Tak lama, saat jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi aku merasa lapar. Lalu aku putuskan untuk pergi makan. Aku ambil dompetku akan tetapi aku dapati dompetku yang berisi uang saku tinggal seribu rupiah. Aku pun langsung berteriak dan menginformasikannnya pada penghuni PKM yang lain. Ternyata mas Budiyanto juga kehilangan sejumlah uang. Gila! Ada pencuri!
Siang hari jumat tanggal 15Juli, setelah kejadian encurian itu dan setelah mengerjakan UAS dengan penuh emosi dan kurang konsentrasi, aku putuskan untuk berangkat sholat jumat lebih awal, aku memakai sandal dan memakainya menuju ke masjid di Beringin Asri. Disana Alhamdulillah setelah mendengarkan khotbah dan sholat jumat aku mendapatkan ketenangan hati. Akan tetapi ketenangan hati itu tidak berlangsung lama karena aku ketahui bahwa sandal Rei kesayanganku tidak ada di teras masjid. Hilang lagi, mencoba untuk ikhlas dan sabar..
Sore hari aku putuskan diisi dengan kegiatan merefresh pikiran. Aku putuskan untuk jalan-jalan ke luar. Akan tetapi setelah aku lihat di dompet dan mencarinya di sekitar PKM, aku tidak menemukan STNK motor pinjaman dari bulikku ini. Dari sore hingga malam, aku terus berusaha mencarinya. Sampai pada akhirnya aku terjatuh dan tiba-tiba sudah pagi.
Pagi hari sabtu tanggal 16 Juli aku telepon orang tuaku dan Alhamdulillah mereka tidak mempermasalahkanya walaupun pada awalnya sedikit tidak bisa terima karena itu hanyalah motor pinjaman yang seyogyanya dijaga dan dirawat dengan baik. Akhirnya suasana di hatiku sedikit terkendali lagi.
Akan tetapi jelang siang aku ketahui ternyata charger hae dan charger netbookku tidak ada, wah hlang lagi nih, batinku dalam hati. Sedikit emosi tapi dapat dikendalikan karena ada bantuan dari Allah SWT. Alhamdulillah, ikhlaskan saja, insyaAllah dapat ganti yang lebih baik.
Setelah kehilangan banyak hal aku pun sadar bahwa semua akan kembali pada-Nya melalui apa saja. Entah kembali dengan jalan yang wajar maupun dengan pencurian. Aku sadar juga bahwa semua ini hanya titipan dari Allah yang cepat atau lambat akan kembali juga kepada pemiliknya sesungguhnya, yaitu kembali kepada Allah SWT.

Pesan Untuk Pencuri
Pada akhirnya, aku analisis pencurian yang terjadi di PKM, yang mengakibatkan aku kehilanagn hape, uang, stnk dan charger serta mengakibatkan mas budi kehilangan sejumlah uang pelakunya adalah sama. Pencuri tersebut melakukan gerakan yang sama yaitu di pagi hari.
Sadarlah wahai pencuri, aku yakin engkau meyakini akan adanya Tuhan, Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maka sadarlah, setiap tindakan pasti akan mendapatkan balasannya. Perbuatan buruk akan mendapat siksa, baca Albaqarah ayat 268!!!
Sekali lagi kepada pencuri, sadarlah. Aku tetap berharap engkau mendapat petunjuk dari Allah SWT dan mengmbalikan apa yang engkau curi kepada yang berhak. Kalau tidak, silahkan duduk manis dan tunggu PEMBALASAN dari Tuhanku, Tuhan orang-orang Beriman!

Kemudian Aku….
inilah yang aku alami selama hampir setengah tahun terakhir, memang banyak kerugian dan pengorbanan, akan tetapi Bila Allah SWT mengijinkan, aku akan tetap disini, sampai amanah ini terselesaikan, sampai semua tanggung jawab tertuntaskan, dan sampai teman-teman mahasiswa terlayani, terfasilitasi dengan baik. Semoga aku menjadi sosok yang berguna bagi kalian, orang banyak dan Agamaku. Inilah komitmenku. Semoga Allah selalu memberi kekuatan dan menunjukkan jalanNya kepadaku.
Jangan dikira aku duduk manis dan enak-enakkan disini. Disini aku berfikir, merenung dan bertindak agar PGSD menjadi jurusan yang diperhitungkan. Mari kita bersama-sama melangkah maju agar PGSD benar-benar JAYA!
Dan pada akhirnya aku sadar, inilah konsekuensi yang harus aku alami dan aku jalani setelah menyanyikan lagu gubahan itu saat Pemira PGSD. Allah sedang menguji komitmen dan kesabaranku. InsyaAllah aku akan berusaha untuk memenuhi komitmen ini dengan kesungguhan dan ketotalitasan. Inilah ceritaku, komitmenku, dan ketotalitasanku saat ini. Semoga semakin baik!

Rahma Huda Putranto

Mahasiswa angkatan 2010
PGSD FIP UNNES

Comments

Baca Juga