“Nemu” Menemu Baling di P4TK Seni dan Budaya (Bag. 1)

Hari ini, saya mengikuti kegiatan menulis dengan menggunakan teknik menemu baling, menulis dengan mulut membaca dengan telinga. Hal ini menjadi sesuatu yang baru. Alhamdulillah saya bisa ikut. Dan ini menjadi pengalaman saya yang pertama berkunjung di P4TK seni budaya Yogyakarta. Sungguh sangat mengesankan. Karena di awal perjalanan, saya sempat kesasar di beberapa tempat. Walaupun saya sudah punya bayangan P4TK ada di sana. Namun bayangan itu berbeda.

Aku kesasar sampai di Pakem dan saya terkejut, ternyata di sana ada RSJ. Padahal saya tidak bermaksud untuk mengobati jiwa di RSJ tersebut.  Pada awalnya saya menggunakan jalur alternatif Tempel belok kiri. Harapannya saya bisa sampai di Pondok Pesantren Pandanaran. Ternyata jalur tersebut tembusnya di Pakem. Sesampainya di P4TK Seni Budaya Yogyakarta, saya terkejut, fasilitasnya luar biasa.

Ini adalah P4TK kedua yang saya kunjungi setelah P4TK IPA di Bandung. Disini saya lihat fasilitas yang sangat maju dan bagus. Keterkejutan saya, ternyata bangsa Indonesia memiliki fasilitas untuk peningkatan kompetensi guru dengan sangat hebat. Dari segi luas, P4TK Seni Budaya LEBIH paling luas bila dibandingkan dengan P4TK IPA. Saya suka melihat asrama P4TK Seni Budaya karena memiliki fasilitas yang lengkap dan baru.

Saya terkejut saat pembukaan kegiatan ini. Pada sambutannya, Bapak Plt Kepala, Kabid Fasilitasi Peningkatan Kompetensi mengatakan bahwa pendidikan adalah mempersiapkan masa depan. Membicarakan masa depan Indonesia, ada tantangan yang besar bagi bangsa Indonesia yaitu bangsa Indonesia memiliki bonus demografi yang harus dimanfaatkan. Karena apabila bonus demografi ini tidak dimanfaatkan, akan menjadi beban bagi bangsa dan negara.

Fenomena saat ini, negara yang maju bukanlah negara dengan jumlah penduduk yang besar. Akan tetapi negara yang maju adalah negara yang mampu memanfaatkan potensi atau peluang yang ada. Dalam konteks ini, kita bisa belajar dari Islandia. Islandia adalah negara kecil dengan jumlah penduduk hanya tiga ratus ribu. Negara ini tertutup dengan es. Akan tetapi Islandi mampu meloloskan diri untuk pertama kalinya di Piala Dunia 2018. Dan yang mengejutkan lagi adalah pelatihnya berprofesi sebagai dokter gigi. Ketika ditanya, dokter gigi yang menjadi pelatih sepak bola Timnas Islandia ini menjawab pertanyaan mengapa engkau bisa meloloskan Islandia ke Piala Dunia 2018 di Rusia. Jawabannya ternyata simpel dia mengatakan bahwa saya adalah orang yang paling tahu keadaan anak-anak saya.

Ditulis dengan Menemu Baling oleh Rahma Huda Putranto, S.Pd., Guru SDN Giripurno 2, Kecamatan Borobudur.
Telah dishare di rahmahuda.blogspot.com

Post a Comment

Previous Post Next Post

Ad 2