Pagi ini saya terlambat mengikuti apel pagi. Keterlambatan ini bukan
karena saya datang di sekolah melebihi pukul 07.00 WIB. Penyebabnya adalah saya
harus memenuhi kewajiban memandu pembelajaran di kelas VI pada jam ke-nol.
Sehingga keterlambatan apel ini bukan merupakan hal yang melanggar aturan.
Saya melewatkan beberapa hal menarik dari apa disampaikan oleh pembina apel karena terlambat mengikuti apel. Kebetulan pembina apel hari ini adalah ibu Ana, guru kelas 1 B. Hal menarik yang saya lewatkan adalah pendapat beliau tentang kompetensi menulis yang harus dimiliki oleh siswa SDN Borobudur 1. Saya hanya kebagian ketika beliau menceritakan kemampuan menulis yang harus dimiliki siswa kelas IV. Mulai dari kemampuan menulis huruf capital sampai ukuran tulisan latin yang disesuaikan dengan baris halaman buku tulis.
Namun, ada hal lain yang membuat saya tertarik. Yaitu mengenai hal sederhana yang harus diperhatikan guru dalam mendidik siswa. Bu Ana mengungkapkan hal sederhana tersebut berupa keharusan siswa memakai pakaian secara rapi. Secara konkrit, beliau mencontohkan agar guru tanpa rasa enggan senantiasa mengingatkan siswa agar memasukkan baju seragamnya. Terutama bagi siswa laki-laki ketika memakai seragam putih merah dan batik.
Bu Ana menyarankan kepada semua guru SDN Borobudur 1 yang mengikuti apel untuk tidak memberikan nilai ataupun mengijinkan siswa masuk ke kelas kalau pakaiannya belum rapi. Mungkin menurut pendapat orang awam, keharusan memasukkan pakaian bukanlah sesuatu yang penting. Namun bagi seorang guru, hal ini harus menjadi perhatian yang serius. Saya sepakat dengan pendapat Bu Ana. Beliau berpendapat bahwa guru harus bisa memotivasi siswa agar berpakaian rapi. Mengingat memasukkan baju merupakan hal yang sederhana yang harus berhasil diterapkan, sebelum guru membahas tentang bagaimana cara membentuk karakter siswa.
Borobudur, 23 Maret 2018
Tags
Opini