Inovasi artinya memperbaharui apa yang sudah ada atau menciptakan sesuatu yang baru. Yang diperbaharui atau yang diciptakan bisa berupa barang, jasa, bahkan tindakan. Inovasi terutama berkaitan dengan barang dan jasa identik dengan aktivitas ekonomi. Namun inovasi kini tidak sebatas hal itu. Tindakan diri dalam bentuk pikiran dan perbuatan juga membutuhkan inovasi.
Inovasi dalam diri setiap manusia harus dilakukan untuk mengikuti arus perkembangan zaman. Inovasi diri lebih pada upaya untuk beradaptasi pada perubahan zaman. Tentu kita ingat dengan salah satu teori dari Charles Darwin, yaitu seleksi alam. Teori seleksi alam secara sederhana dapat dijelaskan bahwa hanya makhluk hidup yang mampu beradaptasi dengan alam (baca: perkembangan zaman) yang dapat hidup dan bertahan. Jadi muncullah pertanyaan, inovatif atau mati?
Penyesuaian diri terhadap perkembangan zaman berpijak pada kebutuhan. Kebutuhan agar bisa hidup lebih baik di zaman ini. Sehingga otak ini harus senantiasa berpikir. Apa yang kita butuhkan saat ini dan nanti esok hari?
Jawaban atas kebutuhan inilah yang nantinya menggiring seorang anak manusia untuk berinovasi. Singkatnya, kebutuhan menjadi dasar dalam berinovasi. Sehingga jangan sampai otak ini tidak memikirkan kebutuhan apa yang harus terpenuhi.
Kalau otak ini berhenti berpikir maka semua akan terasa cukup. Merasa cukup inilah yang membuat manusia terlena. Kelenaan yang membuat manusia berhenti berinovasi. Alhasil, ketika tersadar, ia kaget melihat kemajuan zaman yang tidak bisa ia kejar lagi.
Borobudur, 8 September 2018
Tags
Opini
