Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Perpustakaan Harus Memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi


Perpustakaan telah berubah. Perpustakaan secara tatanan tidak hanya berisi tumpukan buku. Perpustakaan kini tampil lebih modern dengan dilengkapi perangkat komputer. Artinya perpustakaan mulai menggunakan layanan berbasis teknologi informasi untuk melengkapi koleksi pustaka yang ada.

Teknologi informasi harus masuk ke perpustakaan karena perpustakaan melayani pemustaka yang tidak sama seperti dulu. Pemustaka yang berkunjung di perpustakaan kini termasuk dalam generasi millenial. Generasi millenial adalah generasi yang hidup dan tumbuh bersama kemajuan teknologi dan informasi.

Generasi millenial juga merupakan generasi yang dengan gadget. Gadget menjadi sarana baca yang lebih populer dibandingkan buku. Sebenarnya tidak perlu risau kalau popularitas buku kalah dengan gadget. Perpustakaan hanya perlu menyentuh teknologi informasi dan komunikasi.

Teknologi informasi dan komunikasi digunakan untuk mengeluarkan apa yang ada di dalam tumpukan buku. Caranya bisa dengan melakukan digitalisasi koleksi pustaka. Koleksi pustaka yang telah didigitalisasi ini dapat diakses oleh pemustaka dengan aplikasi khusus. Aplikasi ini juga mendukung peminjaman buku digital layaknya buku biasa.

Penyesuaian perpustakaan dengan teknologi informasi merupakan sebuah keniscayaan agar tidak ditinggalkan pemustaka. Perpustakaan harus mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Semoga dengan penyesuaian perpustakaan ini dapat mewujudkan tagline "literasi untuk kesejahteraan."

*Seri Pemikiran yang muncul ketika mengikuti Bimtek Strategi Pengembangan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Pepusnas/ PNRI).

Comments

Baca Juga