Mewaspadai ISBN Palsu

Seseorang bercerita bahwa dia pernah membayar uang sekian juta untuk memperoleh ISBN. Kejadian yang menimpa seorang guru ini terjadi beberapa tahun yang lalu ketika ia ingin menerbitkan karya bukunya. Dia menitipkan naskah buku ini kepada seorang teman. Ia berharap temannya ini bisa memfasilitasi agar ISBN tersemat di bukunya.

Ibu guru ini akhirnya memperoleh buku cetak hasil tulisannya. Guru yang bekerja di sebuah SMP ini semakin senang karena di sampul belakang telah terpampang barcode ISBN. Begitu pula di halaman balik judul, kode ISBN juga tertulis di bawah nama pengarang. Kebahagiaannya semakin menjadi ketika bayangan buku ber-ISBN ini ia ajukan untuk penilaian angka kredit.

Namun, sayang seribu sayang, buku ber-ISBN ini ditolak oleh tim penilai angka kredit. Tim penilai angka kredit berpendapat bahwa ISBN ini palsu. Ibu Guru pun terkaget-kaget mendengar pernyataan ini. Bagaimana tidak, jutaan rupiah telah ia gelontorkan demi 13 digit nomor ini.

Tim PAK ternyata memeriksa nomor ISBN yang terpampang dengan cara memasukkannya ke portal isbn.perpusnas.go.id. Nomor ISBN ini tidak ditemukan. Padahal bila ISBN ini resmi dan valid, otomatis dapat diperiksa melalui portal yang dikelola langsung oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ini.

Singkat kata, Ibu Guru ini tertipu modus pengurusan ISBN. Sang ibu guru juga tidak memeriksa nomor ISBN yang terpampang di bukunya ini di portal miliki perpusnas. Nasi telah jadi bubur, buku yang ditulis dengan penuh uraian keringat dan pikiran ini berakhir kena tipu.

Setiap penulis hendaknya waspada terhadap modus yang mengatas namakan pengurusan ISBN. ISBN diberikan Perpusnas secara cuma-cuma. Pilih penerbit atau penyedia jasa yang memiliki track record dan reputasi yang baik. Jangan lupa memeriksa nomor ISBN di portal isbn.perpusnas.go.id. Semoga kejadian ibu guru ini menjadi kejadian terakhir yang menggunakan ISBN sebagai modus penipuan! Aamiin!

Post a Comment

Previous Post Next Post

Ad 2