Ketika Engkau Sakit

Pelajaran berharga hari ini adalah tentang bagaimana menentukan prioritas. Pekerjaan kadang membuat terlena siapa saja. Sampai-sampai lupa pada skala prioritas terutama tanggung jawab pada keluarga.

Siang tadi, Reza anak kelas 6 tergesa-gesa mencariku. "Paak Hudaa, ada ibu-ibu mencari Pak Huda. Sekarang menunggu di pintu gerbang sekolah," teriak anak kesayangan ibu wali kelasnya ini membelah keheningan ruang guru.

Aku bergegas menuju gerbang. Ternyata benar dugaanku. Ibuku menunggu disana.

Ia menceritakan bagaimana keadaan Rafi saat ini. Ibuku dengan tegas memintaku untuk membawa anak pertamaku ke dokter. Katanya kondisi sudah gawat. Cirinya ia tidak mau lepas dari gendongan dan panas tinggi.

Kondisi ini membuatku bimbang. Di sisi hatiku yang lain, ada bisikan "nanti sore saja, bawa Rafi ke Pak Dokter." Bisikan ini berlanjut dengan rasionalisasi agenda yang telah direncanakan siang ini.

Saya siang ini berjanji untuk mengajari siswa membuat karya ilmiah dan mengetik ayat Al-Quran dengan software khusus. Akhirnya janji dengan siswa batal. Aku lebih memilih membawa Rafi ke dokter saat itu juga.

Keputusan ini dengan mempertimbangkan beberapa hal:
1. Anak kita yang nantinya akan kita andalkan di hari tua nanti.
2. Sayang Tuhan tergantung sayang kita ke anak (coba renungkan doa Rabbighfirli wa li wa ....)
3. Masih ada banyak waktu untuk pekerjaan

Saya yakin keputusan ini tepat. Karena memang keluarga merupakan prioritas utama. Apalagi ketika ada anggota keluarga yang benar-benar membutuhkan kehadiran kita.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Ad 2