Ketika engkau melihat sebuah "silluet," apakah engkau tahu ekspresi dari seorang yang ada di foto itu?
Kita akan menerka ekspresi siluet itu. Tertawa kah? Atau malah ia sedang beruraian air mata?
Entah apa yang tersembunyi, ada satu yang pasti. Secara kasat mata, bayang silluet menjadi simbol kedataran tanpa ekspresi.
Karena hanya berupa warna gelap. Setiap siluet bisa dimaknai dan diwarnai dengan ekspresi apa saja.
Hidup juga seperti itu. Hidup kadang juga perlu dibuat silluet. Jadi penting juga mewarnai hidup dengan warna hitam.
Hitamnya siluet membantu untuk memilih ekspresi seperti apa yang nantinya dipilih.
Sepahit-pahitnya nasib, harus disikapi dengan ekpresi yang benar. Karena kalau salah bersikap, derita nasib pahit menjadi seolah berulang.
Siluet ini membuatmu termenung. Banyak perkara yang perlu disiluetkan untuk memperoleh ekspresi yang tepat.
Seperti perkara tesis yang progresnya seperti siput berjalan; perjalanan jauh walau tak sejauh kuliah di Rusia; pulang larut namun tak selarut sambutan kokok ayam; belum lagi ekspresi biasa saja setengah jengkel menyambut lelahmu.
Maka patut direnungi pula tulisan dari Presiden model ke sekian dari banyaknya presiden yang ada di Indonesia, Presiden Janc**ers, Sudjiwo Tedjo seolah memberi saran agar perkara pahit itu menjadi indah.
"Maka siluetkan tubuhmu berlatar senja, kekasih, karena tak sanggup ku melihat air matamu.."
