Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Snack Culture dan Semakin Pendeknya Tulisan atau Konten

Institut Pariwisata dan Kebudayaan Korea melakukan studi yang hasilnya dirilis Kementerian Budaya, Olahraga, dan Pariwisata pada tahun 2014 lalu. Laporan tersebut menunjukkan bahwa snack culture diprediksi akan tumbuh melesat.

Snack culture berkembang seiring kemajuan telepon pintar. Snack culture ditandai dengan pola konsumsi hiburan dalam waktu singkat. Pembuat konten menanggapi keberadaan snack culture ini dengan menyediakan konten dengan durasi yang tidak terlampau panjang. Durasi lima belas menit sudah sangat lama bagi orang yang terjangkit snack culture.

Snack culture semakin menguat karena kesibukan manusia modern semakin tinggi. Manusia modern kian mendambakan kecepatan dan efisiensi. Mereka tidak akan "betah" berlama-lama pada konsumsi konten yang durasinya panjang.

Sebagai gambaran, manusia modern membutuhkan konten yang selesai dikonsumsi ketika menyeberang jembatan penyeberangan. Ibarat kata, konten hiburan bisa dinikmati secara tuntas di sela-sela kesibukan. Otomatis,  kebanyakan manusia modern tidak bisa menikmati konten yang terlampau panjang.

Paradigma penyedia konten hiburan pun bergeser. Konten berupa tulisan cerita beratus-ratus lembar tentu tidak banyak yang menggemari. Begitu pula konten video non-film tidak akan disajikan dengan durasi panjang. Kurang lebih lima belas menit, penikmat hiburan bisa menuntaskan hiburan tersebut.

Oleh karenanya, tidak perlu malu bila tidak bisa menulis dengan sangat panjang. Cerpen atau esai pendek kini terbukti semakin disukai. Hal ini bisa dilihat dengan begitu menjamurnya portal-portal yang memuat esai. Contohnya mojok(dot)co, basabasi(dot)co, dll.

Konten video juga tidak tersaji panjang. Coba lihat, bagaimana larisnya video cuplikan-cuplikan pengajian, pidato tokoh, atau wawancara. Cuplikan-cuplikan itu tidak terlampau panjang namun sangat digemari. Terbukti dari raupan viewer dan like.

Oleh karenanya, misal anda ingin menjadi penulis atau konten kreator ada paradigma yang harus diubah. Buat konten sependek mungkin namun tetap mengena dalam menyampaikan pesan. Sudah tidak zamannya lagi tulisan panjang atau durasi tayangan yang berjam-jam.

Comments

Baca Juga