Balada Tukang Sunat (Puisi)


Entah kenapa profesi ini menggiurkan

Padahal hanya memotong bagian kecil di depan

Ternyata kecil jadi banyak kalau dikumpulkan


Alkisah tukang sunat yang lihai

Sebelum memotong pasti dibelai

Sampai nurut dan terkulai


Ritual dengan seribu bumbu

Rapalan mantra melaju

Merdu nyanyian datang menyerbu


Sambil tersenyum

Berbicara bijaksana

mencampur nama Tuhan sebagai bumbu


Orang disunatnya tanpa menjerit

Walau keadannya terhimpit

Di pojok ruang yang sempit


Tukang sunat berwajah pribumi

Penerus era kompeni

Tak peduli apa kata orang yang penting diri sendiri


Tukang sunat punya teman

Temannya juga tukang sunat

Punya hobi yang sama

Yaitu nyunat


Tapi apa mereka saling menyunat?

Kalau tukang sunat saling menyunat

Bisa habis yang disunat


Para tukang sunat bersatu

Dibagilah para tukang sunat itu

Dari membuka cabang sampai ganti baju


Dibukalah cabang sunat

Sembari ganti baju tetap menyayat

Jelas bersatu 'tuk membabat


Ya karena wataknya satu

yang dipikir hanya itu

Selalu nyunat tanpa rasa malu


Satu pintaku

Jangan kau sunat puisiku

Biar dianggap tahu malu

Post a Comment

Previous Post Next Post

Ad 2