Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Simplisitas adalah Kecerdasan: Hidup Sederhana


Simplisitas merupakan sebuah kata untuk mengungkapkan suatu pola dalam menanggapi berbagai hal dengan kesederhanaan. Bahkan simplisitas ini menjadi salah satu ciri orang cerdas. Misalnya ilmuwan Einstein yang berhasil menyederhanakan teori relativitas dengan rumus e=mc2. Sehingga simplisitas menjadi ciri orang-orang cerdas.

Orang cerdas bukan orang yang membuat segala yang dihadapinya menjadi rumit. Bukan pula orang yang merumitkan hal-hal sederhana. Mungkin hal ini bertentangan dengan anggapan masa kini bahwa semakin rumit penjelasan, jawaban, atau persepsi atas sebuah peristiwa akan dianggap sebagai seorang intelek.

Simplisitas juga dibutuhkan di era yang "rumit" ini. Banyak aliran-aliran trend yang membebani persepsi kita akan hidup. Contoh sederhananya soal makan. Dulu makan merupakan kegiatan untuk memberikan asupan energi agar manusia bisa berkegiatan. Makan apa dan dimana tidak menjadi soal. Yang penting makan itu prinsip manusia era sebelumnya.

Namun kini hanya untuk makan butuh pemikiran ekstra. Manusia ingin makan di tempat eksotis dengan menu unik. Bahkan rela antri berjam-jam hanya untuk berfoto dengan makanan yang sedang viral. Kecenderungan inilah yang membuat kegiatan sederhana seperti makan sudah tidak simpel (baca: sederhana) lagi.

Di bidang politik seperti yang terjadi di tahun 2019 ini juga ada kecenderungan tidak simpel lagi. Semua ingin berlomba menarik perhatian khalayak. Berdesekan memasan poster atau baliho di pinggiran jalan. Padahal kalau berfikir sederhana, hom pim pah saja siapa yang mau "jadi". Antri urut kacang juga bisa kalau mau benar-benar mengurus rakyat.

Yaah. Mau gak mau kalau ingin berpikir simpel kita harus melatih diri untuk berpikir tentang hakikat. Mampu membedakan mana yang hakikat yang merupakan isi atau hanya cangkang atau kulit yang berupa citra semu.

Maka hidup ini jangan dibuat repot. Sederhana saja. Seperti orang jawa menyikapi hidup seperti layaknya orang yang "mampir ngombe".

Maka ungkapan Cak Nun yang beredar dalam bentuk infografis patut direnungkan. Saya mencernanya seperti ini. "Jangan mau kalau hidupmu ditekan oleh kekuatan apapun. Tetaplah bahagia. Tugasmu hanya mengabdi kepada Allah SWT".

#Caknun #simplisitas #intelektual #filsafat #hidup #sederhana

Comments

Baca Juga