Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Politisi (Hanya) Saling Atur Posisi?

Saya tertegun membaca headline berita televisi swasta sore ini. Saya rasa, level tertegu n saya melebihi rasa tertegun saya karena masih sempat-sempatnya menonton TV. Saya membaca tulisan kurang lebih seperti ini, "Manuver Menggembosi Koalisi."

Pembaca berita menjelaskan kalau manuver seorang laki-laki silaturahmi dengan seorang ibu membuat goyah partai pengusung. Ada juga cuplikan wawancara yang mengatakan kalau pertemuan itu hanya pertemuan biasa. Saking biasanya, orang biasa seperti saya menganggapnya luar biasa.

Bagi saya politik itu unik. Keunikannya timbul dari tanggapan beragam bila ada manuver politik dari salah satu pemainnya. Seperti di atas, sebuah pertemuan saja menghasilkan ribuan tafsir makna. Tafsir makna ini pun melahirkan sikap beragam dari banyak warga negara.
Dari sekian tafsir, ada satu tafsir yang menurutku pas. Para elite itu aslinya benar-benar kawan satu sama lain. Karena sering kali terjadi di sela mengisi acara TV mereka terlihat bergurau satu sama lain. Padahal ketika kamera TV merekam dalam dialog yang ditayangkan, mereka terlihat garang beradu argumen satu sama lain.

Yah, sebelas-dua belas dengan sandiwara humor yang juga sering tayang di TV. Kadang artis A berperan menjadi pada posisi si B. Kadang juga si B berperan di posisi A. Ya ya ya, ada skenario yang harus ditaati.

Begitu juga dengan para elit politik. Para elit berdasi hanya bertukar posisi. Sekarang ada tampil di depan, besok gantian di belakang. Kadang menyerang, kadang bertahan. Sering "bertengkar" sering pula "ber-haha hihi" bersama.

Kalau kondisi sudah tidak jelas seperti ini, saran saya jangan sampai ada pihak tak bersalah yang menjadi korban. Contohnya para pendukung yang belum bisa move on atau yang tak bisa menerima keadaan jangan sampai saling "membully." Karena rugi juga sih membela mati-matian kalau sebenarnya yang dibela juga sama. Sama-sama teman yang saling berembug atur posisi.

Comments

Baca Juga