Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Software Kemakmuran, Prosperity Consciousness

Manusia dapat diibaratkan dengan sebuah perangkat komputer. Manusia memiliki bagian yang namanya hardware dan software. Manusia yang normal memiliki dua komponen yang saling melengkapi ini.

Hardware manusia melingkupi akal, panca indera, dan organ tubuh. Konon katanya semua manusia memiliki potensi hardware yang sama. Manusia normal memiliki kapasitas otak yang ukurannya tidak jauh berbeda satu sama lain. Manusia normal pun dianugerahi dengan seperangkat alat yang bernama panca Indra. Hanya saja, nasib setiap orang bisa berbeda.

Ada manusia yang gampang rezekinya. Namun, ada manusia yang susah menjemput rezekinya. Sebagian manusia ada yang meraih kemakmuran dalam hidup. Ia bergelimang harta kekayaan. Akan tetapi sebagian yang lain ada yang kesulitan harta bahkan sampai ke taraf hidup menderita. Sebenarnya apa yang membedakan manusia satu dengan manusia yang lain toh modal hardwarenya juga sama?

Ya, kalau diibaratkan komputer, perbedaan antar manusia lebih disebabkan perbedaan software yang diinstal di perangkat hardwarenya. Orang yang bergelimang kemakmuran memiliki dan menginstall software bernama kegigihan, pantang menyerah, mau berusaha, dan sederet sikap positif lainnya.

Sedangkan orang yang menderita, memasang software yang salah. Salah install software membuat kinerja hardware menjadi tidak optimal. Software yang sebenarnya tidak perlu diinstal itu berbentuk nilai-nilai negatif. Nilai keyakinan yang negatif dapat berupa mudah menyerah, malas, takut, dan lain sebagainya.

Simpulan sementaranya, software pada manusia berbentuk nilai keyakinan. Nilai keyakinan inilah yang mempengaruhi kinerja hardware. Singkatnya, software lebih pada apa yang ada di dalam otaknya. Apa yang ada di dalam otak lah yang menentukan gerak langkah kehidupan manusia.

Pengibaratan manusia dengan komputer ini memperjelas perbedaan antara manusia satu dengan yang lain. Manusia dianugerahi potensi hardware yang sama. Maka manusia harus mengoptimalkan kerja hardware dengan memilih software yang tepat.

Seperti di dunia komputer, kalau komputer yang digunakan ingin bisa digunakan untuk mengetik, ya harus ada software pengolah kata seperti Microsoft Word. Komputer tanpa software pengolah kata tak akan bisa digunakan untuk mengetik. Maka sekali lagi, keberadan software sangatlah penting.

Lantas, software seperti apa yang harus diinstal di otak manusia agar kehidupannya lebih baik? Instalasi pertama yang perlu dilakukan adalah instalasi kesadaran. Kesadaranlah yang akan membuka jalan manusia menuju kehidupan yang lebih baik.

Kesadaran akan apa? kesadaran tentang kemakmuran. Saya setuju dengan konsep kesadaran akan kemakmuran ini. Mardigu Wowiek yang konon katanya mentor bisnis dan mantan atasannya Sandiaga Uno menyebutnya dengan Prosperity Consciousness. Tidak mudah memang menginstallnya. Namun tidak mudah bukan berarti tidak mungkin.

Comments

Baca Juga