Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Makna Tahun Baru Islam dan Keluarga Darma

Drs. H. Ridwan Rois, Ketua MUI Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang

Tahun baru Islam dimulai dengan sebuah peristiwa besar. Yaitu hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Momentum hijrah ini menjadi tonggak awal penanggalan Islam, yaitu tahun Hijriyah.

Hijrah dari segi bahasa diartikan berpindah. Sedangkan dari sudut pandang makna, hijrah berarti berpindah dari hal buruk ke hal yang baik. Makna hijrah seperti ini mirip dengan konsep tasawuf modern milik Buya Hamka.

Hendaknya momentum tahun baru Islam dijadikan sebagai pengingat sekaligus penyemangat diri agar senantiasa memperbaharui diri menjadi seseorang yang lebih baik. Kalau kemarin iman masih goyang kanan kiri sekarang ditegaskan syahadatnya. Kemarin belum ikhlas sekarang menjadi lebih ikhlas. Kita juga harus berpindah dari ketololan atau kebodohan kepada kepandaian.

Keluarga Darma
Semangat menuju hal yang lebih baik dapat mencontoh kesadaran yang dimiliki keluarga Darma. Keluarga Darma terdiri dari lima bersaudara. Kelima saudara ini saling menopang untuk mewujudkan kebermanfaatan keluarga Darma di khalayak ramai. Kelima saudara ini bernama Darman, Darti, Darso, Darban, dan Darsi.

Keluarga Darma dalam konteks ini memiliki makna filosofis. Darma merupakan singkatan dari sadar lima. Maknanya, ada lima hal yang perlu disadari. Disadari sebagai hal yang penting.

1. Darman
Darman artinya sadar iman. Setiap orang harus menyadari pentingnya iman. Karena seseorang berbekal iman akan tenang dalam mengarungi dunia ini dan akan selamat di akhirat.

2. Darti
Sadar mati merupakan kepanjangan dari Darti. Kesadaran bahwa manusia merupakan makhluk Tuhan yang bisa kapan saja mati akan menimbulkan tanggung jawab. Terutama tanggung jawab dalam beribadah dan berbuat baik.

3. Darso
Darso atau sadar sholat. Konsep ini dilandasi oleh pemahaman bahwa sholat merupakan hal pokok dan penting dalam kehidupan beragama Islam. Sholat adalah tiang agama. Sholat juga amalan pertama yang nantinya akan dihisab. Oleh karenanya, kesadaran dalam merawat sholat sangatlah penting.

4. Darban
Darban adalah kependekan sadar berkorban. Berkorban disini dimaksudkan pada aktivitas bersodaqoh, berinfaq, berzakat, berqurban, dll. Insan manusia yang  hartanya berlebih berkewajiban berbagi kepada orang lain. Harus disadari bahwa di harta berlebih tersebut ada harta milik orang lain. Selain itu harta yang dimiliki juga harus disucikan melalui aktivitas zakat. Berbagi juga melatih individu untuk berkontribusi pada lingkungan sosialnya.

5. Darsi
Darsi akronim dari sadar kalau selalu diawasi. Konsep Islam memperkenalkan pengawasan setiap manusia dilakukan oleh dua malaikat. Malaikat tersebut disebut malaikat Raqib dan Atid. Malaikat yang berada di bahu kanan dan kiri ini bertugas mencatat amal baik dan amal buruk manusia. Kesadaran selalu diawasi harus ditekankan agar kita tidak semaunya sendiri. Karena manusia memiliki kecenderungan "sakarep e dewe" yang dapat merugikan orang lain. Oleh karenanya kesadaran selalu diawasi ini dimaksudkan agar manusia berhati-hati dalam melakukan suatu perbuatan.

Tahun baru Islam 1440, 11 September 2018 terinspirasi dari pemikiran KH. Ridwan Rois ketua MUI Kecamatan Mertoyudan.

RT 02 RW 01 Jayan Borobudur #satusurotetepngaji

Comments

Baca Juga