Perasaan tidak berlangsung selamanya. Perasaan bersifat sementara. Tidak permanen. Sehingga bila perasaan hinggap di dalam sanubari, ia tidak akan bertahan selamanya. Bisa satu-dua hari, dua-tiga minggu, atau bahkan berbulan-bulan.
Misalnya saja kesedihan. Tidak ada manusia yang selamanya bersedih. Pasti ada masa dimana ia tidak bersedih. Seseorang yang mencap dirinya selalu sedih mungkin lupa akan keadaan dimana ia berada pada posisi dimana ia tidak sedih maupun senang.
Manusia ketika dihinggapi perasaan tidak perlu mencari-cari dari mana perasaan ini muncul. Setiap pertanyaan tentang perasaan hanya akan membawanya pada suatu keadaan dimana perasaan semakin kuat. Perasaan yang terlalu kuat tentu tidak baik bagi kesehatan mental.
Manusia juga tidak perlu menyangkal keberadaan perasaan. Semakin ia menyangkal, perasaan itu akan semakin terasa membesar. Besarnya perasaan hanya akan membuat diri semakin tidak berdaya.
Ada cara yang direkomendasikan dalam menghadapi perasaan. Yaitu berada di tengah. Tidak menyangkal atau membiarkan perasaan. Cara terbaik adalah dengan MENYADARI bahwa perasaan itu memang ada dan MENGIJINKANNYA PERGI. Semua ini dilakukan tanpa ada logika untuk menghakimi perasaan.
Singkatnya, bila seseorang sedih, sadari kalau memang diri ini sedang sedih tanpa men-"judge" kesedihan itu. Terima saja, biarkan hinggap sejenak lalu ijinkan kesedihan itu pergi. Hadapi kesedihan dengan sikap BIASA SAJA. Karena kesedihan tidak bisa di bawa ke masa lalu ataupun masa depan.
Begitu juga dengan kebosanan. Seseorang yang dihinggapi rasa bosan hendaknya tidak mempertahankannya terlalu lama atau mencari-cari alasan dari mana bosan berasal. Semakin mencari alasan bosan, semakin banyak bayangan yang timbul akan rasa bosan itu. Sekali lagi, kuncinya, terima rasa bosan ini dan biarkan bosan ini pergi.
