Sejarah terbukti menjadi bahan bakar efektif untuk memantik semangat kejuangan. Apalagi di era internet dimana informasi bisa disebar dengan cepat. Informasi ini berubah menjadi inspirasi pergerakan.
Informasi itu berbentuk esai, foto, meme dan video pendek. Bentuk informasi yang dikemas seperti itu sangat efisien. Apalagi yang mengemas adalah generasi millenial dan generasi Z. Informasi secara kreatif menjadi mudah dipahami dan diingat.
Profesi baru seperti "influencer" juga terbukti menjadi katalisator pergerakan. Tidak main-main, ribuan follower itu bisa digerakkan juga. Banyak yang hanya memberikan dukungan di dunia maya, namun tidak sedikit juga yang terjun menjadi "follower" yang benar-benar terjun aksi di dunia nyata.
Kembali ke fakta sejarah yang mampu menggerakkan. Saya ambil contoh dua kejadian besar beberapa waktu yang lalu. #gejayanmemanggil dan #stmbergerak. Keduanya masif menghimpun gerombolan massa.
Di linimasa berbagai media sosial dan media online disebutkan bahwa gejayan menjadi tempat untuk aksi karena mengandung aspek kesejarahan. Disini ada semangat peristiwa reformasi 1998. Yang kini jejaknya ada masih terlihat dengan adanya jalan Moses.
Netizen mengaitkan STM Bergerak juga dengan aspek sejarah. Cek timeline twitter, anda akan menemulan kesamaan usia anak STM dengan Semaoen muda ketika memimpin pemogokan massal. Bahkan ada juga yang mengaitkannya dengan perjuangan tentara pelajar di zaman mempertahankan kemerdekaan itu.
Tulisan ini tidak untuk memihak siapapun. Saya hanya ingin mengatakan kalau betul "ngendikanipun" Bung Karno. Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah! Karena sejarah mampu menjadi inspirasi di masa kini untuk merangkai masa depan.
Oh iya, mungkin juga terjadi, aksi akhir-akhir ini menjadi inspirasi di masa yang akan datang. Entah untuk generasi yang sama, yang telah lampau atau yang akan datang.
