Penjahit Celana Cingkrang, Terima Kasihku Untukmu

Hari ini saya lumayan bangga bisa pakai baju baru. Baju warna khaki ini dijahit oleh penjahit ternama dan terkenal di seantero kampung tetangga. Luar biasanya, ketika ukur badan beberapa minggu lalu saya dikira kepala desa baru. Saya hanya tersenyum dan tidak menjelaskan pekerjaan sehari-hari.

Eng ing eng, setelah menunggu berminggu-minggu, baju khaki saya kemarin jadi. Otomatis hari ini adalah hari pertama saya memakai baju ini. Ketika upacara bendera, level kepercayaan diriku meningkat tajam. Saya bisa cengengas-cengenges di depan murid-murid. Luar biasa.

Akan tetapi, setelah sampai di barisan guru, ada yang "ngruhruhi" kalau celana saya cingkrang. Saya pun menghibur diri kalau ini tidak cingkrang. Namun setelah dilihat berulang kali, celana ini memang cingkrang. Cingkrang "sekilan" di atas mata kaki.

Hmm muncul dugaan untuk penjahit terkenal itu. Apa dia ingin mengerjaiku. Apa karena aku sering cerita tentang isu ISIS sampai perseteruan Iran-Amerika. Kemudian memberiku bonus cingkrang. Hmm.. tak tahulah.

Namun, saya merenung kalau secingkrang-cingkrangnya hasil jahitan penjahit ini, masih mending juga. Masih mending karena kain yang kutitipkan berminggu-minggu lalu ini masih dijahitnya menjadi celana, bukan rok. Coba bayangkan kalau kain ini dijahitnya menjadi rok span atau rok rempel. Hmm. Bisa jadi laura, 'lanang ora, wedok ora.'

Terima kasih, penjahit!

Catatan, 13 Januari 2020


Post a Comment

Previous Post Next Post

Ad 2