Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Respon Terhadap Keinginan, antara Mental Miskin dan Kaya

Setiap orang pasti memiliki keinginan. Entah keinginan yang bersifat materi maupun non-materi. Respon seseorang terhadap keinginan yang bersifat materi tentu berbeda-beda. Ada yang berusaha mewujudkannya ada pula yang berupaya meniadakan keinginan tersebut.

Keinginan adalah sesuatu yang manusiawi. Bisa muncul kapan saja, dimana saja, sebagai respon dari pengalaman setiap orang. Pengalaman Robert T. Kiyosaki dapat menggambarkan dua sikap berbeda dalam menanggapi keinginan.

Seperti yang sudah kita ketahui, Robert T. Kiyosaki memiliki dua ayah. Ayah pertama adalah ayah yang berpendidikan tinggi, memiliki karir di pemerintahan yang sangat bagus namun miskin. Sedangkan ayah yang kedua adalah ayah kaya yang tidak lulus SMU namun kaya karena memiliki emperium bisnis yang terus berkembang.

Pengalaman Robert T. Kiyosaki ketika ingin memiliki suatu barang yang sangat mahal, respon kedua ayahnya berbeda. Ayah yang miskin mengatakan "tak mungkin kita bisa membelinya" atau "sudah, hilangkan saja keinginan itu." Keinginan ini berhenti sampai disini. Tidak ada tindakan untuk mewujudkan keinginan itu.

Tanggapan ayah kedua sangatlah berbeda. Ayah kaya tidak meniadakan keinginan itu. Namun mengajak anaknya untuk berpikir dan bertindak. Bila ia melihat sesuatu yang diinginkan anaknya, ia hanya mengatakan kepada anak-anaknya "bagaimana caranya kita dapat membelinya?"

Sikap kita dalam menanggapi suatu kondisi sangatlah menentukan nasib kita ke depan. Terbukti, Robert T. Kiyosaki yang mengikuti nasihat ayah kaya benar-benar memperoleh barang yang diinginkannya. Kenyataan ini terjadi karena adanya usaha dalam kerangka berpikir dan bertindak.

Oleh karenanya, mari kita tentukan keinginan kita dengan sejelas-jelasnya. Setelah itu, gunakan pikiran untuk merumuskan strategi apa yang harus dilakukan. Baru kemudian ditindaklanjuti dengan perbuatan.

Semarang, 11 Januari 2020

Comments

Baca Juga