Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Lindungi Alamat Tempat Tinggal di Dunia Maya


Pegiat antikorupsi beberapa waktu lalu mendapat "serangan" siber. Serangan siber yang dialami banyak macamnya. Berbagai macam serangan dilakukan mulai dari yang harus dilakukan oleh ahli IT sampai hacker "kampung."

Serangan siber kepada pegiat antikorupsi sebenarnya sudah banyak diberitakan. Cek saja melalui mesin pencari. Pasti banyak. Apalagi saat-saat ini dimana kemarin ada isu terkait KPK.

Media nasional bahkan berani memberitakan bahwa ada pihak-pihak yang membeli "malware". Malware ini harganya mahal. Tidak tanggung-tanggung yang memiliki mallware ini secara resmipun tidak ada empat negara di dunia.

Malware ini dikatakan dapat "membobol" whatsapp target. Target akan otomatis terlogout dari aplikasi WhatsApp di HP-nya. Penggunaan malware ini mengakibatkan sang pemilik tidak sadar kalau ada aktivitas mencurigakan di aplikasi WhatsApp-nya.

Whatsapp tetap "terbobol" walau sudah mengaktifkan autentikasi dua langkah. Nomor HP yang menjadi target hacker pun tidak menerima kode OTP (one time password). Wis, pokoke, tiba-tiba pengusaan WhatsApp sudah berpindah dari HP kita.

Cerita di atas adalah cerita "hacking" tingkat tinggi. Ada juga serangan siber yang sederhana. Saya rasa orang awam pun bisa melakukannya. Caranya dengan memesan sejumlah makanan melalui aplikasi ojek online.  Pesanan makanan ini ditujukan ke alamat pegiat antikorupsi yang menjadi target. Walaupun ia sebenarnya tidak memesan makanan tersebut. Hingga akhirnya, mau tidak mau, ia membayar semua makanan yang diantar.

Pemesanan makanan oleh orang tidak dikenal ini tergolong serangan siber. Meskipun kesannya sederhana dan tidak "sekeren" yang menggunakan malware. Serangan pesanan makanan ini cukup merepotkan. Apalagi kalau jumlah makanan yang dipesan dalam jumlah banyak. Kalau pun tidak dibayar pasti akan viral dan "ribut" dengan pengemudi ojek online.

Kemudahan dalam memesan makanan oleh siapa saja dan kepada siapa saja bisa dimanfaatkan oleh "hacker" atau tangan-tangan jahil. Selain itu, tidak menutup kemungkinan kalau serangan ini bisa terjadi kepada kita.

Serangan siber semacam itu hanya mensyaratkan seseorang mengetahui alamat yang dituju. Untuk menghindari kejadian tersebut, kita perlu melakukan tindakan preventif. Salah satunya tidak menyebarluaskan alamat rumah di dunia maya. Alamat tempat tinggal menjadi salah satu data pribadi yang harus dilindungi.

Comments

  1. Nah iyaaa nih, akupun ga sembarangan ksh alamat rumah. Biasanya hanya utk temen2 dan kekuarga tertentu. Kalopun ada utk temen blogger, biasanya yg udh aku kenal lama. Temen2 blogger yg begini rutin tukeran gift Ama aku tiap ada festive season :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, betul sekali. Kehati-hatian kakak seperti yang kakak lakukan ini penting sekali. Alamat rumah hanya untuk lingkaran pertemanan yang paling dalam. Sebagai tindakan preventif ya.

      Delete

Post a Comment

Baca Juga