Akhir pekan lalu ada berita menggemparkan. Beberapa pejabat teras pada bidang keuangan mundur. Ini membuat nilai IHSG turun. Dahlan Iskan dalam catatan hariannya menjelaskan kalau ini saat yang tepat untuk membeli saham. Inilah momentum untuk mendapatkan diskon saham.
Sejalan dengan itu, saya juga sempat diskusi ringan. Kami ngobrol sembari mencecap kopi hangat. Ditemani hujan di lantai 6 di salah satu hotel di Jalan Magelang, Jogja. Pembicaraan ini sampai pada hal-hal berkaitan investasi.
Beberapa dari kami mengungkapkan kekhawatiran ketika ingin membeli saham. Khawatir kalau beli saham dan rugi. Saya pribadi pun punya pengalaman yang sama.
Saya coba-coba membeli saham pada tahun 2021. Saham Bukalapak dan Smartfren menjadi pilihan. Secara jujur, saya beli BukaLapak lebih karena FOMO. Saat itu ada euforia beli saham BukaLapak yang baru saja IPO.
Saya beli saham keduanya dengan memasukkan uang 500ribu ke rekening RDN. Tak lama kemudian, trend nilai saham turun. Akhirnya, saya jual dengan harga sekenanya.
Di sisi lain, saya pertahankan saham Smartfren. Hingga akhirnya perusahaan itu bergabung ke perusahaan XL. Saham Smartfren yang tadinya 1 lot terkonversi menjadi 32 lembar saham Smartfren. Saya sempat dapat hiburan di akhir tahun 2025 berupa dividen sebesar 5ribu rupiah.
Namun, hingga kini, di layar aplikasi Ajaib, tetap tertera tulisan berwarna merah. Tertulis return saya Rp -297.180. Terjadi kerugian sebesar -75,69%. Untungnya, saya dulu mencoba beli saham menggunakan uang SHU RAT Koperasi.
Kini hasil obrolan ringan ini memunculkan minat kembali. Saya coba buka aplikasi dengan membeli "saham diskon". Saran amannya adalah membeli saham perusahaan blue chip.
Saya pun membeli saham BBNI. Yang kemungkinan akan ada pembagian deviden besik bulan Maret/April. Pola lama terjadi kembali, saya mencoba membeli saham ini dengan menggunakan uang SHU Koperasi yang dibagikan hari Sabtu kemarin. Intinya, belilah saham memakai uang "dingin".
Crystal Lotus Hotel, 2 Februari 2026
[Baca juga tulisan serupa di www.rahmahuda.com]
