Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

(Serial RMEK) Hasrat Minum Kopi di Hari Minggu

Siang ini hasrat minum kopi berada di puncaknya. Hasrat ini ibarat orang puasa yang memasuki masa berbuka. Namun hasrat untuk minum kopi ini tak berani ku ungkapkan.

Aku memberi kode besar pada istriku. Namun kode ini tak juga dipahami. Ingin rasanya menggerakkan mahasiswa se-Indonesia Raya menuntut dibuatkannya kopi.

Namun, siapalah aku. Tanda tangan PERPU yang tak serumit membikin kopi saja masih jadi misteri besar bagi para mahasiswa.
"Oalah, kopi aja kamu samakan dengan tuntutan demonstran akhir-akhir ini," begitu kata Raden Mas Empi Kusumodiharjo yang berada di depanku.

"Bukan gitu, mas. Kopi ini jadi obat kebuntuan pikir bagiku,"

"Yowis, bilang saja to sama istrimu. Minta Kopi padanya!" ketus Raden Mas Empi kepadaku.

Saya tak kuasa memerintah untuk membikinkan kopi. Karena istriku ini investor bagi kelangsungan hidupku.

Mendengar ceritaku ini, Raden Mas Empi malah marah besar. Level kemarahannya, kalau diekspresikan bisa seperti anak STM yang merebut water canon milik polisi.

"Kamu ki piye, wong yang jadi pemimpin itu kamu kok. Harus e dia yang manut kamu. Bukan kamu malah jadi takut gara-gara investasi,"

"Takut gak dibiayai kuliah, takut gak bisa bangun ini itu, wes, kene tak tembungke," jengkel si Raden Mas yang satu ini.

Tanganku menahan laju tangannya. Ku katakan saja kalau aku masih ada uang kalau sekedar beli kopi di angkringan pinggir jalan itu.

Tapi Raden Mas yang satu ini bertambah marah. Itu uang terakhirmu to, gak cukup kalau buat beli. Jangan bilang utang ya. Anak bangsa ini sudah menanggung utang 13 juta ketika mereka lahir!

Karena terlalu banyak seng-seng seperti ini, saya padamkan hasrat minum kopi. Terlalu banyak mudharat begitu pikirku.

Saya siram air putih di gelas kosong. Menenggaknya sambil membayangkan orang di balik dunia sana yang sedang mengalami kekeringan.

"Mereka yang kekeringan, minum air putih aja tidak bisa. Apalagi minum kopi panas ditambah gula," begitu pikirku dalam hati.

Ternyata, hasrat itu bisa padam karena sikap kita. Hasrat berlebih harus dikalahkan dengan kesyukuran. Bersyukur menerima keadaan. Karena keadaan yang kita hadapi lebih baik daripada keadaan di tempat lain yang belum kecukupan.

Comments

Baca Juga