Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Kunci Bisnis Ada Dua, Sistem dan Orang-Orangnnya

Pernahkah anda meminjam uang di bank untuk memulai usaha? Semoga tidak pernah ya. Saya sangat menghindari pinjam uang dari bank. Namun, ada dua hal yang bisa kita pelajari dari proses peminjaman uang bank untuk modal usaha. Kedua hal ini memang menjadi penentu dari berlangsungnya sebuah bisnis.

Dua hal yang menjadi pertimbangan utama bank dalam mengucurkan pinjaman adalah sistem bisnis dan orang yang menjalankan sistem tersebut. Bank tahu, bahkan kunci keberhasilan usaha terletak pada sistem dan orang yang menjalankannya. Maka ketika bank melakukan interview atau survey lapangan, bank akan mengamati kedua hal ini.

Pertama, sistem bisnis akan memperlihatkan bagaimana bisnis ini berjalan. Sistem juga akan menggambarkan alur bisnis. Bila alur bisnis berjalan dengan logis, artinya runtut dari proses produksi, distribusi sampai menjual ke konsumen tentu akan terlihat jelas peluang keberhasilan bisnis ini.

Bisnis tidak akan berhasil bila tidak ada sistem. Bisnis membutuhkan sistem yang mengatur bagaimana barang atau jasa diproduksi. Bagaimana produk itu dipasarkan. Yang paling penting, sistem mengatur orang-orang yang menjalan bisnis dengan standar baku. Kita mengenalnya dengan Standart Operational Prcedure (SOP).

Kedua, tak perlu heran kalau keberhasilan bisnis juga ditentukan oleh orang yang menjalankan bisnis tersebut. Tanpa orang yang menjalankan sistem, sistem tidak akan ada gunanya. Orang-orang yang sukses menjalankan sistem tergantung dari keterampilan dan keahlian orang tersebut. Keterampilan atau keahlian bisa diperoleh melalui pendidikan formal. Namun bisa juga diperoleh dari pengalaman.

Orang yang menjalankan bisnis perlu perlakuan khusus dari pemilik bisnis. Orang-orang ini menjadi penentu jalannya sebuah sistem. Pemilik harus memiliki bakat dalam menjaga orang-orang ini. Baik menjaga perasaan atau mengembangkan kemampuan mereka.

Upaya menjaga orang agar tidak berpaling ke pengusaha lain merupakan tantangan terberat setelah sistem berhasil dijalankan. Orang-orang yang berhasil menjalankan sistem biasanya akan digoda lawan bisnis agar berpindah ke bisnis pesaing dengan tawaran yang lebih tinggi.

Orang yang berhasil tersebut bisa juga keluar dari bisnis kita dan mendirikan bisnisnya sendiri. Tentu bisnis itu menjadi kompetitor bagi bisnis kita. Maka diperlukan juga sistem yang mengatur agar kemungkinan terburuk tidak terjadi.

Berdasarkan uraian di atas, saya jadi memaklumi pendapat dari Robert T. Kiyosaki dalam bukunya The Cashflow Quadrant. Kiyosaki sangat mewanti-wanti kalau ingin menjadi sukses menjadi "Bussinesman" harus memperhatikan sistem dan orang-orangnya. Maka ia berpendapat kalau bisnis gagal, maka ada yang salah dari kedua hal itu. Entah yang salah sistemnya atau orang-orangnya atau keduanya.

©️ Rahma Huda Putranto
Renungan setelah usaha penerbitan mengalami "lockdown" karena pandemi Covid-19
29 Maret 2020

Comments

Baca Juga