Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Pandawa Membutuhkan Kurawa dalam Perspektif Etika Jawa


Kisah pewayangan Jawa memperlihatkan adanya dan perlunya keseimbangan dalam kehidupan. Kisah ini sangat kentara dalam pewayangan dalam kisah epos Mahabarata. Dimana dalam cerita tersebut terdapat konflik antara Kurawa dan Pandawa. Kurawa yang berjumlah sembilan puluh sembilan sering dimaknai sebagai pihak yang berkelakuan buruk. Mereka memang ksatria, tapi ksatria yang tindak lanjutnya kurang pas.

Berbeda dengan Pandawa. Pandawa yang berjumlah lima orang digambarkan sebagai seorang ksatria yang ideal. Yang berpihak pada kebenaran. Hingga akhirnya yang lima orang ini berperang dengan para Kurawa. Perjuangan Pandawa mendapat perhatian dari ksatria yang lain. Dari yang lima orang berkumpullah bala bantuan. Mereka bertarung dalam suatu pertempuran habis-habisan yang disebut Baratayuda Jayabinangun.

Konflik yang terjadi sebelum dan selama perang Baratayuda ini menunjukkan kesaktian para Pandawa. Mereka selalu dapat memunculkan sikap kepahlawanan dalam setiap pertemuannya dengan Kurawa. Setiap kejadian menguatkan bagaimana sikap ksatria yang benar. Lantas apa yang terjadi ketika Baratayuda Jayabinangun berakhir?

Franz Magnis Suseno dalam bukunya Etika Jawa menceritakan mengenai hilangnya vitalitas Pandawa. Kesaktian, kebijaksanaan seolah hilang seiring hilangnya para Kurawa dari muka bumi ini. Bahkan Pandawa pun dikisahkan mati dengan cara-cara yang sangat sederhana.

Kisah kematian Pandawa diceritakan ketika mereka mendaki gunung para dewa, Mahameru. Semua orang mati. Hanya tersisa Yudhistira dan anjingnya yang hidup. Kisah kematian yang terkesan biasa saja ini muncul ketika Kurawa telah tiada. Para pandawa diperlihatkan layaknya seorang manusia biasa. Dimana mereka meninggal dengan cara yang biasa-biasa saja pula.

Tempat "Kebatilan" dalam Budaya Jawa

Kisah ini menunjukkan ternyata budaya Jawa memberikan tempat kepada sesuatu yang "batil." Sesuatu yang "batil" itu diperlukan. Ia tidak bisa serta merta dihilangkan. Ketika dihilangkan, akhirnya akan seperti Pandawa itu tadi. Kita kehilangan pembanding mana yang baik dan yang buruk. Mana yang jelek dan yang baik. "Yang baik" akan kehilangan energi karena tidak "yang buruk" untuk dilawan. Maka disini memperlihatkan adanya kebutuhan akan keseimbangan antaran "yang kanan" dan "yang kiri."

Hal ini juga menunjukkan adanya pandangan akan apa yang terjadi dalam percaturan politik Jawa. Orang Jawa akan mudah menerima suatu keadaan yang terjadi dalam perguliran politik raja-raja mereka. Mereka akan memahami adanya "pemberontakan" dan "masa keemasan" suatu periode pemerintahan raja sebagai bentuk keseimbangan.

Kita akan memaklumi bahwa pemberontakan atau konflik yang terjadi dalam suatu periode pemerintahan tetaplah diperlukan. Mereka tidak berupaya untuk menghilangkan terjadinya konflik tersebut. Masyarakan Jawa secara umum akan memahaminya layaknya perang Baratayuda.

Pandangan ini juga memengaruhi pandangan pribadi masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa memahami dalam diri mereka terdapat sisi jiwa yang baik dan yang buruk. Tingkah laku buruk dimaklumi keberadaannya. Masyarakat tidak berupaya untuk menghilangkan tingkah laku yang buruk. Tapi mereka berupaya untuk melatih fokus dalam dirinya dengan laku tapa, puasa, atau bersemedi.

Setiap usaha "laku" tersebut dilakukan untuk meminimalisir keluarnya laku yang buruk. Laku ini dilakukan untuk meningkatkan fokus seorang manusia Jawa terhadap sisi kebaikan yang ada dalam dirinya.

Begitu pula bila kesalahan terjadi dalam kehidupannya, masyarakat Jawa akan memaklumimnya. Orang Jawa akan berusaha untuk mengevaluasi. Memperbaharui diri dengan mengerahkan segenap daya dan upayanya. Ini menjadi tempat atau waktu yang tepat untuk menguji sifat prawira dan kebijaksanaan yang ada di dalam dirinya. Jadi, kita sebagai orang Jawa tidak perlu bersedih atau bahkan menyerah atas sesuatu yang buruk muncul dalam diri atau di hadapannya. Jadikan ini sebagai kesempatan untuk menggembleng diri. Layaknya Pandawa yang tampil luar biasa ketika Kurawa masih ada di dunia ini.

Comments

Baca Juga