Hidup ini penuh ujian. Bukan hidup namanya kalau tidak ada ujian. Ujian memang diperuntukkan manusia yang meniti kehidupan. Ada yang mengatakan kalau ujian menjadi pembeda orang yang satu dengan yang lain. Singkatnya, ujian menjadi suatu mekanisme seseorang untuk menyeleksi mana orang yang pantas mendapat kemuliaan hidup.
Kehidupan yang makmur dan penuh kemuliaan pasti dekat dengan ujian. Biasanya semakin tinggi posisi seseorang di kehidupan, semakin besar ujiannya. Banyak orang mengibaratkan dengan semakin tinggi pohon semakin besar angin yang menerpanya.
Sekarang dapat kita pahami bahwa ujian itu nyata adanya. Manusia harus bijak dalam menghadapinya. Manusia harus memberikan "treatment" yang tepat agar ujian dapat diselesaikan dengan baik. Manusia tidak bisa menghindari ujian. Mungkin ini yang namanya hukum kehidupan.
Makanya, kalau ujian yang datang harus dihadapi. Ujian tidak bisa dibiarkan begitu saja. Semakin dibiarkan, ujian ini semakin membesar. Karena akan bercampur dengan ujian-ujian yang lain.
Jangan coba-coba juga menhindari ujian kehidupan. Semakin ujian dihindari, semakin banyak ujian yang timbul. Yah, seperti efek bola salju. Dimana semakin dibiarkan ujian ini semakin membesar.
Ujian kehidupan harus diselesaikan. Kita perlu analisis ujian yang ada di depan mata. Analisis disini artinya mengurai ujian yang ada menjadi bagian-bagian kecil. Kenapa harus diurai menjadi lebih kecil? Karena terkadang kita melihat ujian yang dihadapi merupakan sesuatu yang sangat besar. Maka perlu "diperkecil".
Proses analisis itu yang membuat kita memasuki fase "aha". Dimana "aha" ini menjadi solusi dari ujian yang dihadapi. Solusi pun kadang tidak muncul seketika. Solusi yang dihadirkan tidak selalu tepat.
Solusi yang tidak langsung bisa menjadi solusi ujian kehidupan merupakan hal yang biasa. Cara menghadapi fase ini cukup sederhana. Tinggal cari berpikir lagi dan cari solusi yang lain. Prinsip "trial and error" memang berlaku disini.
Tak masalah terus mencoba. Yang penting kita terus mencoba menyelesaikan ujian hidup yang menghampiri. Jangan berhenti. Sekali berhenti, kau berarti menyerah pada ujian itu. Konsekuensinya jelas, kemakmuran dan kemuliaan hidup menjauh darimu.
Ketika suatu ujian selesai dilalui, kita perlu mengingat. Bahkan perlu juga mencatat. Catatan itu minimal berupa ujian apa dan solusi efektifnya apa. Ya walau ujian hidup itu tidak selalu dikotomis paling tidak kita punya pilihan solusi di kemudian hari ketika ujian serupa muncul kembali.
Comments
Post a Comment