Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Berhenti Belajar Sama Saja Berhenti Menikmati Keajaiban

 

Hal-hal itu membuat mereka berhenti belajar, sehingga tidak lagi mengalami keajaiban-keajaiban dalam kehidupannya hari lepas hari.

Kutipan di atas merupakan sebuah kalimat yang ada di buku Menjadi Manusia Pembelajar karya Andrias Harefa. Saking terkesannya dengan buku ini saya tuliskan nomor halaman dimana kutipan di atas dimuat. Kalimat di atas terdapat di buku terbitan tahun 2001 ini di halaman 44.

Kehidupan manusia tidak lekang dari keajaiban. Bahkan ada keajaiban yang sudah tidak dianggap ajaib lagi karena sudah sering dilihat dan menjadi keumuman. Contohnya perkembangan dan pertumbuhan manusia.

Manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan sepanjang hidupnya. Mulai dari lahir sampai di liang lahat. Kehidupan manusia diawali sebagai bayi yang baru lahir dan tidak bisa apa-apa. Bayi tersebut tumbuh dan berkembang sehingga bisa tengkurap, merangkak, berjalan, bahkan berlari.

Bayi manusia yang awalnya tidak tahu apapun. Seiring berjalan waktu mengetahui banyak hal dengan bermodalkan panca indera yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Otaknya pun berkembang menjadi lebih "pintar."

Manusia yang baru lahir tidak memiliki keterampilan yang cukup. Bahkan untuk hidup sendiri pun tidak bisa. Manusia membutuhkan keterampilan-keterampilan khusus untuk mengarungi kehidupan.

Lantas bagaimana caranya manusia yang tadinya bayi bisa berkembang menjadi seorang manusia dewasa seperti penjelasan di atas? Satu kata kuncinya, manusia mau dan mampu untuk melakukan kegiatan yang namanya belajar. Manusia belajar sepanjang hidupnya, terutama di masa awal-awal kehidupannya.

Karena kemampuan belajar inilah manusia menciptakan keajaiban-keajaiban. Keajaiban-keajaiban manusia terus berlanjut. Mulai dari ditemukannya bohlam lampu yang bisa berpijar, ketika orang bisa mengatakan "hallo" untuk pertama kalinya dari jarak jauh dengan perantara telepon sampai yang paling baru orang bisa berjalan dan berdiam diri di luar angkasa.

Itu semua keajaiban. Keajaiban yang tercipta ketika manusia mau belajar. Manusia harus belajar sepanjang hayatnya. Bila manusia berhenti belajar, maka keajaiban itu akan berhenti menghampirinya.

Jangan sampai kita berhenti belajar hanya karena sudah "lulus" sekolah menengah atas atau kuliah. Jangan hanya karena sudah mendapatkan pekerjaan yang "nyaman" lantas tidak mau belajar lagi. Atau menganggap bahwa belajar itu hanya pekerjaan "anak sekolahan" yang bau kaus kaki -hahaha.

Oleh karena itu, manusia jika manusia menginginkan keajaiban-keajaiban di kehidupannya, kuncinya ada pada kata belajar, belajar, dan belajar. Belajar dari masalah, hambatan atau tantangan kehidupan. Cari solusi dari setiap tantangan kehidupan dengan cara membaca pengetahuan, belajar keterampilan, atau berdiskusi dengan orang yang lebih tahu. Masih mau belajar kan?

Borobudur, 3 Agustus 2020
Rahma Huda Putranto


Comments

Baca Juga