Sekarang Jumat, 26 Desember 2025. Saya melewatkan tanggal cantik. Kemarin ada tanggal kalau ditulis cukup unik, yaitu 25/12/25. Ada perulangan digit yang sama di tanggal dan tahun.
Meski penulisan hari ini tidak secantik kemarin, saya tetap menemukan alasan untuk bersyukur. Saya bersyukur karena mendapatkan penjelasan yang melegakan hati. Kejelasan ini saya peroleh saat perjalanan menuju ke Kebumen.
Saya bersama keluarga kecil saya menuju ke Kebumen. Tujuannya untuk "rewang" dan mendukung upacara pernikahan adik sepupu saya. Di perjalanan inilah saya memperoleh berbagai penjelasan atas apa yang terjadi selama ini.
Pelajaran yang saya peroleh adalah:
1. Prinsip merasa cukup atas apa yang diperoleh
2. Prinsip keberlimpahan
3. Prinsip komunikasi secara terbuka
4. Prinsip merangkul berbagai pihak
Pelajaran-pelajaran di atas saya sadari setelah Bapak saya bercerita. Beliau menceritakan beberapa hal yang terjadi selama satu bulan terakhir ini. Pada cerita inilah saya mendapatkan suatu wawasan. Terutama dalam mengelola bisnis bersama para investor.
Prinsip cukup perlu dikedepankan pada diri sendiri. Saya belajar untuk merefleksikan apa yang sudah diperoleh selama ini. Dengan demikian, rasa syukur perlu dikuatkan. Caranya dengan memperbandingkan apa yang sudah diperoleh dengan masa-masa sebelum memperoleh berbagai hal ini.
Prinsip berkelimpahan juga perlu diperjelas dengan kesadaran bahwa banyak hal-hal yang bisa diperoleh. Kue ini sangat tidak terbatas. Apa yang ada di dunia tidak terbatas pada apa yang terlihat. Tapi juga terdiri dari berbagai hal yang tidak tampak.
Prinsip komunikasi secara terbuka senantiasa dibiasakan. Komunikasi terbuka membuat orang-orang yang berkaitan dengan bisnis ini menjadi tahu. Mereka mengetahui apa yang diinginkan saya, kamu, dan kita. Dari keterbukaan muncul saling pengertian. Akhirnya, timbul rasa kesalingtergantungan.
Prinsip merangkul berbagai pihak dilakukan dengan komunikasi, kompromi, dan berbagi "kue". Pihak-pihak yang terlibat dalam bisnis memiliki keinginan masing-masing. Keinginan ini perlu dikomunikasikan. Setelah itu kita bisa saling berkompromi. Khusunya pada pembagian kue yang ada. Kue inilah yang menjadi jembatan untuk merangkul semuanya.
Inilah beberapa prinsip yang saya peroleh ketika menjalani perjalanan menuju ke Barat. Saya jadi tahu, banyak prinsip yang perlu dikedepankan agar hidup ini dapat dijalani dengan lebih mudah. Saya pun sadar, senior punya jam terbang yang tidak dimiliki oleh junior seperti saya. Akhirnya, saya sadar, pelajaran terbaik memang berasal dari pengalaman makan asam-garam.
Kebumen, 26 Desember 2025
Rahma Huda Putranto