Hari ini saya menjalani perjalanan ke Solo. Saya ke Solo karena hutang janji. Sehari sebelumnya Rafi tidak mau pulang dari Kebumen. Ia ingin menginap di Kebumen karena masih ingin melihat kereta. Di tengah keputusasaan dalam membujuk, istri saya menawarinya untuk pergi ke Solo naik kereta. Sebenarnya saya sudah mencoba untuk menawar. Tapi ternyata tetap tidak bisa. Janji sudah menjadi janji.
Saya berangkat ke Solo rencananya naik melalui Stasiun Tugu. Tujuannya agar bisa mendapatkan tempat duduk di KRL. Tapi jalanan Jogja begitu macet. Arah menuju Stasiun Tugu diputar melalui Stadion Kridosono. Situasi jalan Kridosono sangat macet. Saya memutuskan untuk berbelok kr Stasiun Lempuyangan. Jaraknya hanya 1 km dari Stadion Kridosono.
Keputusan berangkat dari Stasiun Kridosono memunculkan tantangan, setidaknya ada dua, yaitu:
1. Tidak adanya tempat parkir untuk mobil
2. Ke arah Solo pasti berdiri, karena KRL sudah penuh semenjak dari Stasiun Tugu
Ternyata betul. Kedua tantangan di atas benar-benar terjadi. Saya perku mencari solusi cepat. Saya busa menitipkan kendaraan di Rumah Sakit Bethesda. Dan untuk situasi berdiri, tidak ada solusi lain. Saya bersama istri berdiri dari Stasiun Lempuyangan hingga Stasiun Purwosari Solo.
Kepulangan
Kepulangan dari Solo menuju Yogyakarta situasi tidak jauh berbeda. KRL penuh. Bedanya keadaan ini dapat diantisipasi. Saya mendapatkan informasi dari driver GoCar. Ia menyarankan untuk naiknya dari Stasiun Jebres atau Stasiun Palur. Karena kalau naik dari kedua stasiun ini pasti memperoleh tempat duduk.
Saran ini saya ikuti. Padahal saya sudah sampai di depan Stasiun SoloBalapan. Naiklah kami kembali ke Gocar. Ini GoCar lain yang tidak sama dengan tadi. Saya order lagi. Malu sama driver yang pertama tadi. Bertemulah kami dengan driver kedua.
Driver kedua juga memberikan saran. Daripada naik GoCar lagi ke Stasiun Jebres, lebih baik naik KRL dari Stasiun SoloBalapan ke arah timur. Nanti tidak perlu turun dari KRL kalau sudah sampai Stasiun Palur. Tunggu sekitar 30 menit, KRL itu akan berangkat ke Jogja.
Cara naik ini tidak berdampak pada biaya. Biayanya sama, yaitu Rp 8.000. Tidak berdampak pada biaya karena tapping barcodenya cukup dilakukan sekali saat masuk di area stasiun. Mau ke Timur dulu baru ke Barat
juga tidak berdampak pada biaya. Tarifnya flat. Tarif KRL tetap Rp 8.000.
Ternyata strategi ke Timur dulu baru Barat itu digunakan oleh para penglaju. Mereka sering berangkat dari Palur atau menuju Palur dulu agar mendapatkan tempat duduk. Bisa hemat energi jika bisa duduk dari Surakarta hingga Jogjakarta. Ternyata perlu riset terlebih dahulu sebelum bepergian. Tapi juga tidak masalah jika langsung pergi, namun jadi kurang efisien. Tidak efisien dari sisi materi, waktu, dan tenaga.
KRL Solo-Jogja, 28 Desember 2025
Rahma Huda Putranto