Terasa berat. Itu perasaan yang saya rasakan tadi. Saya mendapatkan tugas untuk hadir di kegiatan yang belum pernah saya ikuti. Tugasnya adalah memenuhi undangan pertemuan pimpinan persyarikatan.
Mereka semua memiliki ilmu yang mumpuni. Integritas dan komitmen pada organisasi. Belum lagi dari level keshalihan. Tentu sholih dan sholihah.
Di sisi lain, saya bukan apa-apa. Masih jauh dari profile senior-senior yang hadir. Apa lagi dari sisi keterlibatan pada kegiatan persyarikatan, tentu bapak-ibu di forum tersebut memiliki keterlibatan yang tinggi.
Saya pun tetap ikut. Lebih banyak diam. Bahkan tidak berkomentar sedikitpun. Muncul suara batin: kalau cuma diam saja, kenapa saya tetap hadir dan bertahan di forum ini?
Batin berbisik. Sejenak membenarkan suara itu. Saya nyaris menyesal. Mending saya mengerjakan tugas lain. Lebih baik istirahat di rumah. Dan suara penyesalan terus bermunculan.
Untungnya, logika ini bergerak. Ada suara yang muncul: Bukankah lebih baik saya di forum ini dan berkumpul dengan orang-orang sholeh? Kesempatan ini tidak datang dua kali. Dan ini mungkin juga bisa menambah energi positif dalam diri saya.
Maka saya pun berucap, "Alhamdulillah."
Sayangnya, logika juga berbisik. Cukup kritis bahkan sedikit nakal. Saya berpikiran kalau perasaan saya yang tertulis di paragraf kedua di atas itu hanyalah asumsi. Yang mana anggapan saya terhadap bapak-ibu belum tentu benar. Asumsi ini tidak perlu saya kembangkan dalam pikiran. Sebab, yang dapat menilai hanyalah Allah SWT.
Meduro, 15 Januari 2026
Rahma Huda Putranto
