Randu Alas


“Pokoke yen wis nglewati wit randu alas sing gedhe kae, awak dewe mesti kalah,”.

Itu ungkapan yang seringkali terdengar semasa saya kecil. Kalau tak salah ingat, saya mendengarnya saat kelas 4 SD. Waktu itu saya tergabung dalam salah satu tim sepak bola di kampung. Mas-mas saya di kampung memang sering mengajak adik-adiknhya untuk “sparing” dengan tim sepak bola di sekitar Borobudur. Salah satunya tim sepak bola yang ada di Desa Tuksongo.

Tim sepak bola dari Desa Tuksongo merupakan salah satu tim legendaris. Pemain-pemain di Desa Tuksongo lahir dari Sekolah Sepak Bola yang bernama Bina Tama. Keberadaan SSB ini mendukung kemajuan ekosistem sepak bola di Desa Tuksongo.

Kemajuan sepak bola didukung oleh beberapa faktor. Pertama, tim sepak bola desa Tuksongo memiliki fasilitas lapangan sepak bola yang sangat bagus. Tanahnya rata. Rumput lapangannya tumbuh subur dan terawat. Masyarakat sekitar seringkali memarahi anak-anak kalau ada yang membawa sepeda ke dalam lapangan. Sepemahaman saya semasa kecil, tak ada roda yang boleh menginjak rumput lapangan.

Kedua, adanya kompetisi sepak bola yang rutin diselenggarakan. Istilah saat ini biasa disebut dengan “tarkam”. Tarkam ini biasa diselenggarakan paska musim panen Tembakau. Maka, tarkam ini sering diikuti pemain-pemain pro. Sebut saja Kurniawan Dwi Yulianto, dan beberapa pemain nasional lain pernah merasakan rumput Lapangan Tuksongo.

Ketiga, Desa Tuksongo memiliki suporter yang “militan”. Ketika tim desanya bermain, seluruh warga kampung tumpah ruah di pinggir lapangan. Mereka tak sekedar menonton. Suara-suara yang terdengar dari pinggir lapangan benar-benar menguji mental pemain.

Keempat atau yang terakhir, ada suasana mistik yang melingkupi setiap pertandingan sepak bola. Kesan ini muncul karena adanya Pohon Randu Alas yang sangat besar di pojokkan lapangan. Bagi anak-anak seusia saya dulu, cerita-cerita mistis seperti itu menghujam di hati sangat dalam.

“Pokoke yen wis nglewati wit randu alas, awak dewe mesti kalah.” Betul saja, tim sepak bola kami mengalami kekalahan. Pohon ini menjadi sentral keyakinan yang mampu menopang semangat tim tuan rumah. Dan tentu menggerus mental tim lawan.

Saya kira kini kisah seperti di atas tidak dirasakan oleh anak-anak di sekitar Borobudur. Cerita Lapangan sepakbola yang dulu tidak boleh diinjak oleh roda kendaraan bermotor sudah tidak ada lagi. Kini lapangan tersebut lebih dikenal sebagai spot foto dengan latar belakang Pegunungan Menoreh. Begitu pula dengan cerita “mistis” Pohon Randu Alas. Anak-anak sekarang barangkali tidak pernah mendengarnya.

Semoga kisah semasa kecil saya ini menjadi pengiring prosesi penebangan Pohon Randu Alas di Desa Tuksongo. Berbagai elemen masyarakat dan pemerintah sedang bergotong royong menebang pohon randu tersebut. Pohon Randu Alas yang diperkirakan berusia 250 tahun ini telah dinyatakan mati oleh tim ahli. Katanya, sudah tidak ada kambium di batang pohon yang sangat besar ini. Inilah yang menjadi bukti kalau pohon ini rentang tumbang dan membahayakan masyarakat yang lewat atau tinggal di sekitar pohon.

 

Nb: Saya memiliki kenangan khusus di tahun 2023 lalu. Kemenparekraf pernah membentuk tim pengembangan desa wisata Tuksongo. Tim tersebut terdiri dari desainer grafis, fotografer, ahli enviromental desain, hingga content writer. Saat itu saya menjadi content writer untuk menuliskan promosi wisata Desa Tuksongo.


Rabu, 4 Februari 2026

Rahma Huda Putranto

Post a Comment

Previous Post Next Post

Ad 2