Dalam diri Nabi Muhammad terkandung contoh yang mulia. Sebab Nabi Muhammad SAW merupakan suri tauladan bagi seluruh umat manusia. Dengan demikian, setiap insan manusia selalu berlomba-lomba untuk meniru tindakan, perkataan, bahkan merenungi perasaan nabi. Apalagi meniru apa yang dilakukan Nabi termasuk sunnah. Yang kalau dalam konteks fikih, sunnah diartikan sebagai tindakan yang kalau dilakukan akan mendatangkan pahala namun jika tidak dilaksanakan tidak apa-apa.
Maka dalam rangka meniru apa yang sudah dilakukan Nabi, saya mencoba untuk mengajukan pertanyaan. Apakah semasa muda Nabi, Nabi memiliki cita-cita? Apakah Nabi di kala muda memiliki cita-cita kalau suatu saat nanti ia ingin menjadi Nabi?
Dugaan saya, Nabi tidak memiliki cita-cita menjadi Nabi di semasa mudanya. Sebab, beliau mengetahui kalau dirinya merupakan seorang "penyampai pesan" ketika menyepi di gua hira'. Laku menyepi ini dilakukan oleh Nabi saat berusia 40 tahun. Ketetapan ini turun secara tiba-tiba. Bahkan Beliau sampai gemetar dan ketika sampai rumah minta untuk diselimuti.
Lantas setelah menjalankan perannya sebagai seorang Nabi apakah Nabi Muhammad SAW kini memiliki cita-cita? Saya rasa juga tidak. Saya belum pernah membaca maupun mendengar kalau Nabi memiliki cita-cita ingin menjadi Nabi yang bla bla bla.
Sepanjang yang saya tahu, Nabi hanya melakukan apa yang diperintahkan dan menjauhi larangan-Nya. Perintah dan larangan ini muncul melalui wahyu yang turun pada Nabi. Maka, Nabi cenderung berfokus pada apa yang perlu dilakukannya. Wahyu itu turun berisi larangan dan perintah. Dimana keduanya merupakan amanat untuk senantiasa bergerak, bertindak, dan bekerja.
Sampai di titik ini, saya meyakini, bahwa Nabi lebih berfokus pada "kata kerja" bukan "kata benda". Dalam konteks cerita ini, kata kerja berarti tindakan untuk menunaikan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sementara itu, kata benda merupakan predikat atau sebutan atau materi. Nabi tidak berfokus pada pencapaian gelar dengan predikat "Nabi". Nabi Muhammad SAW menjadi Nabi karena tindakan-tindakannya. Ia menunaikan apa yang diwahyukan Allah SWT padanya.
Sampai disini saya berkesimpulan, kalau mau bercita-cita, mending berfokus pada kata kerja, bukan kata benda. Cita-cita lebih kepada apa yang akan dilakukan. Bukan pada predikat apa yang akan diperoleh. Hikmahnya, jika cita-cita itu hanya terkungkung pada kata benda, maka kepuasan itu hanya akan diperoleh jika cita-cita itu tercapai. Jika "benda" itu tidak tercapai, yang ada hanyalah frustasi atau kekecewaan.
Berbeda dengan cita-cita yang berfokus pada kata kerja. Ia akan terus bekerja dan beraktivitas. Yang secara otomatis, "benda" atau "predikat" atau gelar" atau "peran" itu akan tersemat secara otomatis. Seperti Nabi yang berfokus pada tindakan untuk menunaikan apa yang diwahyukan kepadanya. Inilah titik kontemplasi saya. Yang mungkin terlalu berani dengan mengatakan kalau Nabi tidak memiliki cita-cita menjadi Nabi. Tapi dari sudut pandang ini, kita mendapatkan hikmah agar selalu bergerak dan bertindak. Dan tidak terjebak pada benda-benda yang seringkali berada di luar kendali kita. Settara Cafe Inn Bantul, 3 Oktober 2026