Bagi para pekerja konvensional, konsep work from home (WFH) adalah sesuatu yang asing. Pekerja konvensional terbiasa pada sistem yang diatur oleh sistem kerja di kantor. Para pekerja konvensional bekerja dengan cara pergi ke kantor dan terbiasa bekerja di bawah pengawasan atasan langsung.
Berbeda dengan work from home (WFH). Orang-orang yang bekerja dari rumah tidak mengenal istilah ngantor. Tidak pula menjalani rutinitas pergi keluar rumah menuju ke kantor. Maka tidak ada juga istilah harus stay di kantor dari selama delapan jam. Bahasa kerennya nine to five.
Perbedaan paling kentara antara work from home dan bekerja secara konvensional di kantor adalah model pengawasan. Bekerja di rumah tentu tidak diawasi langsung oleh atasan atau supervisor. Disini memberikan peluang kebebasan bagi pekerja WFH untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Kebebasan tidak adanya pengawasan menjadi celah ketidakdisplinan. Faktor kendali diri menjadi penentu keberhasilan bekerja dari rumah. Apalagi bagi keluarga yang tidak tahu apa itu work from home. Anggota keluarga yang tidak tahu, menganggap kalau yang bersangkutan libur.
Oleh karenanya, ada beberapa kiat yang bisa diterapkan oleh para pekerja Work From Home (WFH) agar sukses bekerja di rumah. Terutama bagi pekerja konvensional yang berevolusi menjadi pekerja WFH.
Pertama, memberikan pemahaman kepada keluarga atau orang-orang terdekat kalau di rumah mereka diharuskan bekerja bukan libur. Kedua, menetapkan waktu bekerja di rumah. Ketiga, menetapkan jadwal dan target harian pekerjaan yang harus diselesaikan.
Keempat, memulai dan mengakhiri kegiatan dengan rutin sebagai penanda kalau waktu bekerja sudah dimulai. Kelima, menjaga keseimbangan antara bekerja dengan istirahat dan tetap keluar rumah dan bercengkerama dengan orang luar. Terakhir mengawasi dan mengevaluasi penggunaan waktu yang bisa dilakukan secara manual atau otomatis dengan software seperti RescueTime.
