Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Perjuangan Ideologi dan Simbol-Simbolnya

Apa anda pernah mendengar bahwa ada orang yang rela mati demi sebuah ideologi? Sadar atau tidak, saya yakin anda pasti pernah mendengarnya. Walau tidak sepenuhnya menyadari kalau hal itu merupakan bentuk-bentuk pengorbanan terhadap sebuah ideologi.

Saya sekali lagi mengatakan kalau tidak perlu menyebut nama. Sejarah telah menceritakan kepada kita. Kalau ada orang yang rela mati karena "ideologi" berbeda. Orang tersebut mempertahankan ideologi alias keyakinannya bahwa matahari adalah pusat dari tata surya. Ia mempertahankan ideologi itu di tengah masyarakat dan otoritas yang menganggap bahwa bumi lah yang menjadi pusat tata surya.

Sejarah bangsa-bangsa juga membuktikan bahwa para pejuang bangsa banyak yang rela mati demi sebuah ideologi. Ideologi tersebut berupa keyakinan untuk menjadikan bangsanya merdeka. Bangsa merdeka yang bebas menentukan nasibnya sendiri. Terbebas dari kekangan imperialisme.

Setelah sebuah bangsa merdeka, perjuangan ideologi terjadi di ruang-ruang parlemen. Sistem pemerintahan yang saat ini banyak dianut negara di dunia mengharuskan setiap aturan di buat di parlemen. Melalui proses pembuatan aturan inilah nilai-nilai ideologi diselipkan.

Selain perjuangan di ruang parlemen, ada juga perjuangan ideologi di luar parlemen. Sistem demokrasi memperbolehkan seseorang menyampaikan aspirasi di muka umum. Maka timbullah gerakan ideologi non-parlementer. Mereka menyampaikan dan berusaha mewujudkan ideologinya dengan cara turun ke jalan.

Perjuangan ideologi di jalanan tak jarang menciptakan pengorbanan jiwa dan raga. Ada yang meregang nyawa karena benda tumpul atau peluru nyasar. Selain itu ada juga yang babak belur terkapar di jalanan. Belum lagi ada yang tertangkap dan harus mendekap di penjara.

Uniknya, dalam kacamata perjuangan ideologi, perjuangan dan pengorbanan ini menjadi inspirasi bagi generasi penerus perjuangan. Peribahasa "mati satu tumbuh seribu" benar-benar menemukan maknanya pada fenomena ini. Setiap korban dan pengorbanan menjadi bahan bakar sebuah ideologi.

Ideologi memang mirip dengan filsafat. Ideologi dan filsafat sama-sama berpijak pada suatu konsep yang abstrak. Ideologi dan filsafat juga sering menjadikan fakta-fakta sebagai batu loncatan.

Perbedaan yang paling nyata antara ideologi dan filsafat ada pada tataran kenyataan. Ideologi menuntut aksi. Sedang filsafat tidak. Filsafat seringkali hanya berhenti pada aktifitas merenung. Lain halnya dengan ideologi, ideologi harus diwujudkan dalam bentuk aksi. Aksi tersebut berupa kegiatan-kegiatan sebagai sarana mewujudkan tujuan ideal ideologinya.

Kegiatan-kegiatan untuk mewujudkan ideologi perlu digerakkan oleh pelaku-pelaku ideologis. Pelaku-pelaku ideologis membutuhkan simbol-simbol identitas. Simbol-simbol ini menjadi "pemersatu." Simbol ini menjadi penanda identitas bagi setiap pelaku ideologi.

Simbol ini sering dimanfaatkan oleh para tukang doktrin untuk membakar semangat para pengikut ideologi. Karena pada dasarnya manusia merupakan homo symbolicum. Makanya, manusia sering dikenal sebagai makhluk penyuka simbol-simbol.

Simbol ini menjadi wujud kongkrit dari sebuah ideologi. Sehingga pemakaian simbol sangatlah sensitif. Coba saja anda pakai kaos dengan gambar palu arit ke markas militer Indonesia. Sudah pasti anda akan tahu apa yang selanjutnya terjadi.

Jadi tahu kan, perjuangan ideologi dan simbol-simbol itu tidak dapat digunakan sembarangan?

Comments

Baca Juga