Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Terjebak dalam Pikiran Lemah: Membicarakan Orang Lain



Strong minds discuss ideas, average minds discuss events, weak minds discuss people

Pikiran yang kuat membicarakan ide, pikiran yang biasa saja membicarakan kejadian, pikiran yang lemah membicarakan orang lain.

- Socrates

Kutipan dari Socrates menjadi pengingat bagi orang-orang yang hidup di era digital seperti saat ini. Ruang digital menjadi tantangan besar bagi manusia. Sebab manusia melalui ruang-ruang digital dapat membicarakan apa saja. Siapa saja dapat memposting pemikirannya. Siapa pun bisa mengomentari satu sama lain.

Manusia saat ini sering terjebak pada pikiran yang lemah. Saya meminjam istilah pikiran yang lemah dari Socrates. Socrates menjelaskan ciri pikiran yang lemah adalah membicaran orang lain.

Keterlibatan pada pembicaraan terhadap orang lain mudah terlihat di media sosial. Bagaimana ramainya akun-akun media sosial yang menyajikan gosip dari para selebritis, pejabat atau influencer. Lihat juga tayangan-tayangan video yang membicarakan tingkah laku ala "sultan".

Manusia menyukai tayangan yang berisi hal-hal yang menyangkut orang lain. Terutama pesohor kita. Mereka sibuk mengomentari ketika pesohor/public figure melakukan kesalahan. Sampai-sampai seringkali lupa kalau dirinya sendiri juga penuh dengan kesalahan.

Orang lain sebenarnya rugi kalau dijadikan pokok pembahasan. Saya katakan rugi karena pada dasarnya setiap manusia adalah dinamis. Dinamis dalam arti selalu berubah. Manusia berubah setiap saat. Baik berubah secara fisik, emosi, jiwa maupun tingkah laku.

Saya punya cerita yang menjadi bukti bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis. Saya memiliki teman seorang "gus". Gus adalah sebutan di masyarakat Jawa bagi orang-orang yang lahir dari orang tua seorang Kyai. Gus satu ini masa mudanya nakal sekali. Semua kejahatan dan larangan pernah ia lakukan.

Namun kini, Gus ini sudah berubah. Ia tidak lagi terjebak pada kejahatan/larangan. Ia menjadi pribadi yang taat. Si Gus telah berubah. Berubah dari seorang yang nakal menjadi orang yang sangat-sangat baik.

Bayangkan, betapa ruginya kita kalau membicarakan "Gus" ini saat ia nakal. Betapa ruginya kita menghujatnya saat nakal. Padahal ternyata kini ia sudah tidak nakal lagi. Bahkan kebaikannya melebihi kebaikan yang dapat kita lakukan.

Berita-berita daring saat ini ternyata juga menyajikan berita yang "membicarakan" orang lain. Saya tidak menyalahkan redaksi berita daring. Redaksi berita daring hanya menyajikan berita apa yang menjadi kesukaan dari masyarakat.

Padahal, redaksi berita daring dapat lebih banyak menyajikan berita yang kaya ide. Tidak hanya terjebak pada ekspos satu/dua orang. Saya benar-benar mengelus dada ketika melihat sajian berita ketika Coki Pardede tertangkap polisi. Redaksi berita daring lebih memunculkan sisi kepribadian Coki Pardede yang seharusnya menjadi konsumsi pribadinya sendiri.

Redaksi berita sebenarnya lebih dapat mengangkat ide agar kejadian yang dialami Coki Pardede ini tidak dialami oleh orang lain. Bila redaksi berita online sudah tidak menyajikan pemberitaan tentang orang lain yang receh, berorientasi pada kehebohan dan hanya sekedar click bait, saya yakin, redaksi berita, influencer atau siapapun dapat berkontribusi dalam meningkatkan pikiran yang kuat pada masyarakat.

Comments

Baca Juga