Raden Mas Empi Kusumodiharjo berteriak sekeras-kerasnya. Pohon serut kesayangannya dicabut seakar-akarnya. Kejadian histeris ini membuat seluruh kampung gempar.
Kegemparan bertambah mengerikan karena status raden mas miliknya. Konon ketika masih dahulu kala dengan status seperti itu, orang bisa memperselir wanita hanya dengan sekali tunjuk.
Semua mengendap-endap. Tak ada yang berani bicara. Para pengikutnya lebih memilih diam. Diamnya ini seperti para pejabat yang tak berani kritis karena sudah dibidik oleh komisi anti rasuah.
Saya yang tak tahu kejadian menghampiri begitu saja. Saya hanya melihat si raden satu ini mengelus-elus pohon serut. Sambil mengelus, dia "ngedumel."
"Huh, orang yang main cabut-cabut seperti ini gak tau indahnya pohon serut," jengkel Raden Mas Empi.
"Orang yang beradab pasti tau gimana nilai pohon ini."
Ingin saja kusahut dengan jawaban "bukan urusan saya." Sayangnya saya cuma orang biasa yang gak punya anak buah yang bisa dijadikan bemper.
"Den, emang keindahan itu sesuatu yang tersembunyi" jawabku sambil lalu.
"Lah terus piye, jhon?" jawabnya ketus.
Saya sambil berjalan hanya menjawab "Panjenengan itu harus e ngasih tau indahnya pohon serut di bagian mana. Biar semua tahu kalau pohon itu ada nilainya."
Raden Mas Empi hanya terdiam. Walau aku yakin seyakin-yakinnya kalau dia mendengar jawabanku ini.
***
Keindahan itu sesuatu yang menjadi titipan dari Tuhan. Itu kesimpulan saya setelah membaca kolom di Tempo yang ditulis Umar Kayam tahun 1977 silam. Keindahan yang tersembunyi sering tidak bisa dipahami manusia.
Manusia memahami keindahan dari-Nya kadang membutuhkan perantara. Perantara itu bisa berupa kejadian, membaca, pengalaman, atau orang lain. Misalnya saja, seseorang memahami keindahan ilmu setelah ia membaca berbagai literatur atau mendengar pengalaman dari gurunya.
Memahami keindahan dari bacaan atau orang lain terkadang lebih mudah bila dibandingkan membaca sebuah kejadian alam. Kadang kejadian alam sering diartikan musibah oleh sebagian manusia.
Manusia baru bisa menyadari bahwa kejadian itu mengandung keindahan setelah "badai" berlalu. Ada juga cerita orang Jawa ketika mendengar anaknya jatuh dan luka di sikutnya. Luka yang menyakitkan masih saja dimaknai dengan keindahan.
"Iseh Alhamdulillah ora tugel tangane," begitu kata orang Jawa. Kesakitan ini berujung indah karena kesyukuran. Kesyukuran yang mengandung keindahan tidak disadari seketika ketika "kesialan" itu terjadi.
Pandai-pandailah merenung, temukan keindahan yang dititipkan Tuhan kepada Makhluknya.
Rahma Huda Putranto
di Pom Bensin Mendut, 1 Oktober 2019