Keputusan, maksud sederhananya putus dari hal lama beralih ke hal baru. Keputusan menjadi penting dalam sendi kehidupan manusia. Keputusan merupakan pijakan manusia dalam menjalani kehidupan.
Manusia mana yang tidak hidup tanpa keputusan? Bangun pagi pun sudah harus melakukan tindakan untuk sebuah keputusan. Setelah bangun pagi mau diputuskan untuk sarapan dulu, jogging dulu atau melanjutkan tidur?
Nyata sekali kalau manusia pada hal yang paling dasar memerlukan keputusan. Keputusan menjadi kebutuhan bagi setiap orang. Keputusan tidak melulu dimiliki oleh orang berpangkat tinggi. Setinggi-tingginya keputusan orang lain, masih penting keputusan kita.
Keputusan kita yang nantinya akan membentuk kita seperti apa. Keputusan yang memutuskan apa yang kita pikirkan. Tak berhenti sampai di pikiran. Keputusan juga menjadi landasan seseorang dalam berkata dan bertindak.
Keputusan memiliki musuh nyata. Musuh itu bernama penundaan. Keputusan semakin sulit terbentuk bila ditunda-tunda. Maka banyak warga negara tidak menyukai pemimpin yang suka menunda-nunda keputusan.
Keputusan yang baik dari segi waktu cirinya dua. Keputusan baik itu diputuskan cepat dan eksekusinya bertahan relatif lama. Misalnya tanggapan terhadap pandemi Covid-19 ini. Covid-19 ditindaklanjuti dengan cepat. Tindak lanjut penanganan itu pun dipertahankan relatif lama. Sampai benar-benar telah kondusif.
Sedangkan keputusan yang jelek biasanya lahir dari proses keputusan yang lama dan eksekusinya cepat berubah. Misalnya ada seseorang yang mengatai kita tidak mampu membeli mobil. Kita terpancing pada anggapan orang tersebut. Kemudian secara emosional kita membeli mobil. Mobil terbeli namun baru disadari kalau mobil belum menjadi kebutuhan yang mendesak. Akhirnya mobil dijual.
Keputusan membutuhkan tujuan dan keberanian. Keputusan tidak akan lahir tanpa adanya tujuan. Keputusan pun tidak akan berlaku bila tidak ada keberanian. Penjelasan selanjutnya saya tulis besok pagi.
(Bersambung)
©️Rahma Huda Putranto
Jayan, 7 April 2020
