Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd., M.Pd.  adalah seorang Kandidat Doktor di Bidang Pendidikan dan Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Pernah menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Selain itu, gelar magister bidang pendidikannya juga diperoleh melalui Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta. Kini sedang menempuh studi doktoral di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tenga...

Perlawanan Kucing

Situasi rumah seringkali tidak kondusif. Sebab, ada seekor kucing yang mengganggu. Kucing berwarna putih dengan motif coklat dan hitam ini seringkali merobek plastik makanan. Akibatnya, makanan yang ada di dalamnya tidak bisa dinikmati.

Peristiwa konkritnya terjadi hari ini. Saya baru saja mendapatkan oleh-oleh kerupuk tengiri dari Malaysia. Kerupuk ini terbungkus plastik. Saya menaruhnya di atas meja sebelum kerja. Sepulang kerja, bungkus kerupuk ini telah tercabik-cabik. Menyisakan kerupuk yang berhamburan di lantai. Akhirnya saya tidak bisa menikmati oleh-oleh dari Malaysia.

Tak ayal peristiwa ini membuat saya jengkel. Dalam pikiran saya hanya satu, kucing ini harus saya tangkap dan membuangnya ke tempat yang jauh. Peristiwa terkoyaknya bungkus kerupuk ini memunculkan ikrar perang terhadap kucing tersebut.

Peperangan dengan kucing ini ternyata tak perlu menunggu lama. Karena kucing ini kembali masuk ke rumah pada malam hari ini sekitar pukul 22:00 WIB.

Saya berhasil menangkapnya. Awalnya saya pancing si kucing dengan panggilan "pus... pus...." Saya beri ia makanan. Lantas saya tangkap. Berhasil.

Saya baru sadar kalau kedua tangan saya harus memegangi kucing ini. Saya minta istri saya untuk mengambil wadah untuk dapat digunakan untuk membawanya ke tempat pembuangan. Dimasukkanlah di dalam kardus.

Kucing ini memberontak. Ia keluar dari kardus. Saya tangkap lagi. Tapi situasi kali ini berbeda. Kucing ini mengamuk. Mengaum dan mengayunkan cakarnya beberapa kali. "Aumannya" membuat saya jijik. Air liurnya keluar. Bulu-bulunya beterbangan.

Saya memang anti dengan air liur dan bulu kucing. Saya pun melempar kucing ini keluar rumah. Ia kabur dengan berlari sangat cepat. Kucing ini jelas-jelas kini meninggalkan luka fisik. Ada beberapa goresan cakar yang tertinggal di tangan kanan saya. Darah pun menetes.

Saya akhirnya menyadari bahwa setiap tindakan harus dipersiapkan. Apalagi tindakan yang saya lakukan berpotensi menimbulkan perlawanan. Terbukti dari peristiwa perlawanan kucing ini. Sang kucing semakin melawan ketika kita semakin mengancamnya. Akhirnya terbukti pada rumus tekanan pada ilmu Fisika. Kian besar gaya tekan yang diberikan, semakin besar perlawanan (tekanan) yang ditimbulkan. Kini kita tahu betapa pentingnya "alat" dan "kelemahlembutan".


Borobudur, 17 Agustus 2025

Comments

Baca Juga