Saya mengawali hari dengan rasa bersalah. Pemicunya berasal dari kejadian di kantor PCM Borobudur. Ketika saya membuka pintu kantor, ada orang yang tidur persis di belakang pintu. Saya juga amati kondisi sekitar. Penuh dengan puntung rokok, beberapa piring berisi nasi, sop sayur, dan tempe. Tentu saya kaget. Siapa gerangan orang ini? Tanyaku dalam hati. Saya tanyai. Rumahnya mana, sudah berapa hari, dan mau sampai kapan "menginap" di kantor PCM ini. Saya tanyai dengan menggunakan Bahasa Jawa Krama. Meski halus, saya sulit untuk menyembunyikan kejengkelan saya. Pikiran saya terbayang dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Waktu itu Kantor PCM ini sempat juga dihuni oleh orang jauh. Awalnya hanya sehari, dua hari, ganti bulan, hingga bertahun-tahun. Karena kantor ini menjadi tempat hunian, otomatis kegiatan kesekretariatan PCM berhenti total. Saya tak ingin ini terjadi lagi. Eh, saya malah keprucut untuk meminta orang ini pergi. Saya tanyai mau sampai kapan. Ia menjawab nanti sore. Ya sudah, saya pegang omongan dia untuk meninggalkan tempat ini nanti sore. Sudut pandang saya berubah. Mas Fauzi menanyai ke orang asing satunya. Ternyata ini rekan dari orang yang saya tanyai tadi. Sama-sama dari Semarang. Pun di depan kantor ada dua sepeda motor ber-plat H. Ternyata kedua orang ini adalah tukang yang menggarap paving halaman masjid. Saya menyesal karena sempat berkata-kata ke orang yang satunya. Saya minta maaf. Saya minta bergeser karena kantor PCM mau digunakan untuk rapat koordinasi SatuMu. Tukang yang satu menjawab tidak apa-apa. Tapi yang satunya diam saya. Ya, maklum, mungkin jengkel karena saya sempat berkata-kata. Kejadian ini mengajarkan pada diri saya. Ternyata pada bagaimanapun kondisinya, harus diawali dengan senyum. Ketika senyum meluncur lebih dulu, rasa jengkel tidak akan mengikuti. Lalu harus mengedepankan rasa praduga tak bersalah. Harus diidentifikasi dulu. Apa dan mengapa sesuatu ini bisa terjadi. Maka perlu keterampilan bertanya dengan halus dan full senyum. Tidak langsung berpikiran yang tidak-tidak dan menjudge. Yakinlah, yang terjadi hari ini tidak selalu serupa dengan kejadian buruk di masa lalu.
