Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Alasan Tidak Swab PCR di Puskesmas

Disclaimer: Tulisan ini tidak bermaksud untuk mencegah orang tidak melakukan tes di Puskesmas. Tujuan tulisan ini hanya untuk menggambarkan situasi batin yang saya alami di pertengahan Juni 2021. Mungkin saat ini-ketika anda membaca tulisan ini- pelayanan di puskesmas anda tidak sama dengan apa yang saya pikirkan dalam tulisan ini. Intinya, silahkan tes Swab PCR dimanapun untuk menegakkan diagnosis dan tindakan medis yang tepat.

CERITA ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Tulisan sebelumnya menceritakan tentang proses saya mendapatkan vonis positif Covid-19 (baca: CERITA HASIL RAPID TEST ANTIGEN GARIS DUA SAMAR). Namun, saya tidak percaya dengan hasil tes tersebut. Selanjutnya saya melakukan tes swab PCR untuk memperoleh hasil yang valid.

Dokter di RS Syubbanul Wathan memang meminta saya untuk melakukan Swab PCR. Hal ini merupakan kelanjutan dari hasil tes rapid Antigen yang terlihat samar. Selain itu, Swab PCR menjadi satu-satunya tes pemeriksaan Covid-19 yang diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dokter menjelaskan kalau Swab PCR dapat dilakukan di RS Syubbanul Wathan dan fasilitas kesehatan lainnya. Pemilihan fasilitas kesehatan ini menentukan biaya yang nantinya harus saya tanggung. Biaya yang ditanggung pun menentukan lamanya hasil Swab PCR dapat diketahui.

Ada juga Swab PCR yang gratis. Swab PCR gratis dapat dilakukan di Puskesmas. Caranya dengan menunjukkan surat hasil swab positif dan foto spesimen "strip dua" dari RS Syubbanul Wathan. Hanya saja hasil Swab PCR yang dilakukan di Puskesmas baru bisa diketahui lima sampai tujuh hari sesudahnya.

Hasil Swab PCR dari Puskesmas lama karena spesimen harus dibawa ke laboratorium yang ada di luar kota. Spesimen pun harus antri dari pasien di seluruh kabupaten Magelang. Bahkan bila sudah sampai di laboratorium, harus antri dengan pasien dari daerah lain.

Tawaran-tawaran di atas tidak langsung saya setujui. Saya pulang ke rumah. Sembari menyetir mobil saya berpikir.

Dalam hal ini saya tidak memilih Swab PCR di Puskesmas. Alasannya yang pertama, saya ingin langsung mengetahui hasilnya. Hasil pemeriksaan Covid bila diketahui lebih cepat tentu akan dapat diberikan tindakan yang lebih cepat pula. Semakin cepat diagnosis, semakin cepat proses pengobatan dapat dilakukan secara efektif dan efisien.

Kedua, saya ingin meminimalisir potensi stigma negatif dari masyarakat. Masyarakat kini semakin kritis. Walau "kritisnya" sering ngawur. Ngawurnya seperti ini, ada saja yang menuding macam-macam bila mendengar tetangganya swab. Padahal pemeriksaan swab atau rapid test antigen belum tentu terkena Covid-19. Eh, serta merta sudah dituduh Covid-19 padahal hasil belum keluar.

Ketiga, saya ingin meminimalisir penularan. Saya melihat Puskesmas banyak dikunjungi orang sakit. Saya tidak ingin malah tertular dari pasien Puskesmas itu. Dalam konteks ini mungkin saya salah. Saya berpikiran negatif kalau di Puskesmas tidak menerapkan protokol kesehatan.

Dari ketiga alasan di atas, sebenarnya alasan pertama lah yang membuat saya tidak Swab PCR di Puskesmas. Logika saya tidak menerima kalau hasilnya baru diperoleh seminggu setelah pengambilan spesimen. Saya pun membayangkan, tindakan medis apa yang bisa dilakukan selama satu minggu itu. Toh sebelum tahu hasilnya, dokter tidak akan sembarangan memberikan "obat Covid" kepada kita.

Ketiga alasan itu pula yang membuat saya harus mencari tempat yang bisa melakukan Swab PCR dengan hasil secepat-cepatnya. Saya telepon ke beberapa rumah sakit. Umumnya membutuhkan tiga hari kerja untuk memproses hasilnya.

Saya akhirnya menemukan satu tempat di kota tempat saya tinggal. Ada satu laboratorium kesehatan milik swasta yang dapat melayani Swab PCR dengan "One Day Service". Saya rasa ini satu-satunya di Magelang. Hanya satu tempat ini yang bisa memberikan hasil Swab PCR maksimal jam 20.00 WIB.

Dengan demikian saya memutuskan untuk Swab PCR di laboratorium swasta ini. Saya Swab PCR dengan istri. Istri saya juga divonis positif setelah rapid test antigen. Rapid test antigen dilakukan setelah mengetahui saya juga positif. Cerita saya Swab PCR di laboratorium swasta di Magelang ini akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya.


See you di tulisan selanjutnya.


Rahma Huda Putranto

Penyintas Covid-19 yang sempat menulari keluarganya.

Comments

  1. Benar juga sangat masuk akal. Kalau hasilnya baru diketahui seminggu kemudian, ya selama seminggu itu kita bingung harus gimana.

    Bicara soal stigma masyarakat, sekarang batuk dikit jadi perhatian. Padahal kan batuk hanya gejala/respon ketika ada sesuatu asing yang masuk tenggorokan. Kena debu atau asap rokok misalnya. Ya, kecuali kalau batuk berkepanjangan.

    ReplyDelete
  2. Hmmm, benar juga sih kalau nunggu hasil swabnya selama itu, akan lebih was-was dan kepikiran.
    Btw mas, saya penasaran nih, berapa pengeluaran mas dan istri selama isoman? include biaya rapid, swab dll

    ReplyDelete
  3. selama ini aku test di lab, kemarin beberapa orang rumah test di puskesmas karena arahan dari RT RW .
    itupun test karena aku sendri di rumah yang positif

    ReplyDelete
  4. Jangankan PCR, aku lho kalau beli sayur pakai masker saja kadang dilihatin ngga enak gitu. Padahal kan yaa sama aja, buat jaga2.

    ReplyDelete
  5. saya setuju sih, test PCR dipuskesmas emang lama banget nunggu hasilnya. kakka iparku sampai nunggu dua minggu dan itupun belum ada kabar, isoman nya udah beres dan udah sehat sekarang, gak konyol sih, hehehe

    ReplyDelete
  6. Setuju nih kalo kita memilih langsung ke dokter untuk penanganan juga cepat scra gak menunggu lebih lama, karena yg ada malah nambah lagi isomannya...

    ReplyDelete
  7. Apa ya yang membedakan tes PCR puskesmas yang memakan banyak waktu dibandingkan dengan tes di perusahaan swasta yang hasilnya bisa ditunggu dalam hitungan jam? Manpower harusnya bukan alasan lagi sih karena sekarang kita dalam situasi pandemi, harusnya bisa lebih sigap dan "membantu" masyarakat.. hmm..

    ReplyDelete
  8. Oalah, ini toh yang membuat hasil PCR beda-beda di rumah sakit / puskesmas/ klinik. Ternyata ada yang harus bawa specimen ke laboratorium luar kota. Ngerti sekarang.

    ReplyDelete
  9. Aku lebih lucu lagi, hasil swab PCR baru keluar setelah 10 hari. Diberikan sekaligus surat bebas masa isolasi. Haha...

    Waktu itu gak PCR mandiri karena memang sedang isoman dan pernah kontak dengan yg + dan OTG pula. Jadi gak ada bayangan kalau bakal positif. Makanya santai aja, tapi lucu juga ya puskesmas ini. Lama banget hasilnya. Tapi hal kayak gini memang cuma di beberapa puskesmas, terutama daerah. Soalnya suami swab PCR di Puskesmas Jakarta 3 hari juga udh keluar hasilnya.

    ReplyDelete
  10. kebetulan waktu kuliah S1 saya beberapa kali mengerjakan praktikum PCR untuk bakteri atau virus yang pasti bukan patogen manusia. Memang pengerjaannya tidak mudah dan alatnya tidak murah. Hal klise ini jadi masalah utama fasilitas kesehatan di negara kita. Kalau kit apunya rezeki berlebih saya setuju dengan kak huda lebih baik PCR di klinik swasta, dengan alasan hasilnya cepat dan mencegah penularan.
    namun, untuk saudara kita yang kekurangan PCR puskesmas menjadi satu2nya, semoga semua fasilitas kesehatan di indonesia semakin baik dan sejahtera serta merata.

    ReplyDelete
  11. Semangat kak untuk tetap jaga kesehatan, dan iya juga kalau ada yg lebih cepat hasilnya, kan gak masalah, cepat juga ditangani

    ReplyDelete
  12. Dan memang agak lama ya kak? Mending di yg swasta aja berarti yess supaya bisa mengetahui hasilnya realtime hehhe

    ReplyDelete
  13. Dan memang agak lama ya kak? Mending di yg swasta aja berarti yess supaya bisa mengetahui hasilnya realtime hehhe

    ReplyDelete
  14. Iya tes di puskesmas memang antri, mereka ga punya alat untuk baca hasilnya. Secara harga gimana pak? Puskesmas gratis kah swab nya? Kalau yg one day service tadi?

    ReplyDelete
  15. Bagi saya orang yang memeriksakan dirinya saat ada bergejala adalah orang yang bertanggung jawab, artinya dia juga tidak ingin mengenai orang lain. Tidak apa menolak mas, karena banyak kasus di puskesmas suka ga valid hasilnya.

    ReplyDelete
  16. woalaaah, lumayan ya durasi nunggunya. btw kalau di puskesmas bayar enggak sih, mas?

    ReplyDelete
  17. Setuju. Aku dan suani sekali pcr di puskesmas, pas mama meninggal Krn covid. Makanya kami semua dirujuk Ama RT utk tes di puskesmas. Tapi pas tahu hasilnya 7 hari, aku sekeluarga lgs tes ulang di RS swasta yg hasilnya di hari yg sama tp beberapa jam kemudian mas. Memang jauh LBH mahal, tapi kan kita butuh Cepet hasilnya. Kalo nunggu 7 hari, telat banget sih. Apalagi kalo ternyata positif. Seandainya hasilnya negatif, tapi selama 7 hari udah kontak Ama yg lain2, kan diragukan juga hasilnya.

    Ga deh, aku milih bayar mahal tp Cepet hasilnya :D. Jadi tindakan bisa Cepet juga.

    ReplyDelete

Post a Comment

Baca Juga