Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Perlakuan Diskriminatif bagi Penyintas Covid-19?

Saya masih merasa kesulitan berperan sebagai penyintas Covid-19. Kesulitan ini berasal dari tanggapan masyarakat. Belum banyak masyarakat yang bisa menerima penyintas Covid-19. Penyintas Covid-19 masih diperlakukan layaknya penderita Covid-19. Apa ini ya yang namanya diskriminasi?

Saya mengalami sendiri perlakuan berbeda dari masyarakat. Tetangga saya masih sangat menjaga jarak dengan saya. Sementara itu, keluarga saya juga masih diperlakukan sama. Sama-sama "dijauhi".

Sebenarnya "jauh" dalam arti menjaga jarak sangatlah bagus. Persebaran virus dapat ditekan. Sebab dengan menjaga jarak aman, penularan virus dapat diminimalisir.

Tulisan ini selanjutnya berisi sebuah cerita. Cerita ini berdasarkan salah satu pengalaman yang istimewa. Kejadian ini terjadi pada hari ketiga setelah saya selesai isolasi mandiri. Saya saat itu "berolahraga" jalan pagi.

Sepulangnya jalan pagi, saya bertemu seorang ibu. Ibu ini dikenal sangat ramah. Keluarga ibu ini cukup dekat dengan keluarga kami. Seperti biasa, ibu ini langsung mengajak saya bicara. Obrolan yang penuh keramahtamahan ini terjadi di samping rumahnya.

Ibu yang mencegat saya ketika berjalan ini menanyakan kondisi ibu saya. Saya ceritakan kalau ibu sudah membaik. Ibu saya sudah tidak bergejala kembali.

Saat saya belum sepenuhnya menjawab pertanyaan ibu ini, suaminya sudah memberikan kode keras. Suaminya bilang "ssst... Sssstt". Isyarat ini dilontarkannya dari pintu masuk rumahnya. Jarak pintu dengan tempat saya mengobrol tidak ada sepuluh meter. Wajar saja kalau saya mendengar isyarat itu dengan jelas. Bahkan isyarat itu ia berikan kepada istrinya berulang kali.

Saya yang melihat dan mendengar isyarat itu pun dapat memahami situasi. Saya yakin suaminya tidak ingin istrinya mengobrol dengan saya. Saya pun mengakhiri obrolan itu. Saya katakan juga kalau itu Pak XXX sudah "sat-set-sat-set". Saya pun melenggang melanjutkan jalan pagi. Saya berjalan menuju ke rumah.

Memaknai dengan Positif

Saya sambil berjalan ke rumah memikirkan kejadian ini. Saya mencoba untuk memikirkan posisi saya dalam kejadian tersebut. Saya berada pada posisi sebagai penyintas Covid-19. Sedangkan keluarga yang "sat-set" tadi keluarga yang memang menjaga protokol kesehatan. Bahkan semenjak satu setengah tahun yang lalu tetangga saya ini sudah sangat tertib.

Saya merenungi kejadian ini. Saya menaruh hormat kepada keluarga tersebut. Walaupun cara memberikan "kodenya" bikin perut saya "mules".

Saya ingat kembali bahwa respon/perkataan/tindakan orang lain berada di luar lingkaran kendali. Saya tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain pikirkan/lakukan. Saya hanya bisa memberikan respon terbaik atas tindakan itu.

Saya berkesimpulan bahwa apa yang terjadi memang yang terbaik. Masyarakat masih butuh waktu untuk "bergaul" dengan penyintas Covid-19. Mungkin sebagian masyarakat ingin memastikan kalau saya sudah benar-benar tidak sakit. Saya sudah benar-benar bersih dan negatif Covid-19.

Cerita pertemuan dengan masyarakat yang belum pernah terkena Covid-19 berbeda ketika bertemu dengan sesama penyintas Covid-19. Sesama penyintas Covid-19 lebih bisa saling menerima satu sama lain. Cerita pertemuan dengan sesama penyintas Covid-19 akan saya urai di tulisan selanjutnya.



Comments

Baca Juga