Instansi yang membawahi pekerjaan saya akhirnya meluncurkan aplikasi presensi kehadiran online. Sosialisasi penggunaan aplikasi ini terus dilakukan selama dua minggu terakhir ini. Semua belajar bagaimana cara menggunakan aplikasi ini.
Status WA para pegawai dibanjiri screenshoot aplikasi ini. Semua mencoba untuk menggunakan aplikasi ini. Saya juga mendownload aplikasi ini dan mencoba login. Saking sibuknya, istri saya nyeletuk begitu saja.
"Yang lainnya sibuk cari tahu bagaimana menggunakan aplikasi ini, eh ayah malah sibuk cari cara supaya bisa nge-hack aplikasi" begitu kata istriku sambil tertawa.
Ya bukan niatanku untuk melakukan penyimpangan seperti itu. Saya juga seorang "developer." Walau developer abal-abal, aku tahu etika bagaimana harus menghargai sebuah karya dengan menggunakannya sebaik mungkin.
Saya hanya ingin tahu bagaimana solusi bila ada sebuah kondisi saya benar-benar tidak bisa melakuakan presensi kehadiran. Misal, HP saya lowbatt maka saya harus melakukan upaya lain. Misalnya juga ketika suatu saat nanti saya harus melaksanakan tugas tanpa dibekali administrasi berupa surat tugas atau sejenisnya yang tempatnya jauh dari titik pusat presensi.
Sebenarnya ya, hanya atas dasar itu, saya "mengulik" aplikasi ini. Masak iya manusia harus "kalah" pada sistem. Saya hanya ingin tahu cara kerja, alur logika, pembagian kewenangan beberapa tingkatan admin dan standar keamanannya.
Simpulan saya, aplikasi presensi ini sudah sangat bagus dan memiliki standar yang cukup tinggi. Karena aplikasi presensi ini mampu mendeteksi "fake" bila mencoba merekayasa cara kerja aplikasi ini dengan teknik rekayasa sederhana.
Ditulis di Palbapang, sambil menunggu rombongan profesor, 24 Desember 2019

siap ikutan kelas nya prof��
ReplyDeleteKelasnya dikawal satpol PP bu hhhha
DeleteSolusinya klo hp lowbat untuk "mengalahkan" sistem sdh ktm blm pak huda...jd pingen tahu hehey
ReplyDeleteYaa betul, kita butuh alternatif lain selain ponsel pintar
Delete