Kurang PD

Mungkin inilah kesadaran terbaik yang bisa saya temukan setelah larut dengan AI (Artificial Intelligent/Kecerdasan Buatan). Kesadaran bahwa saya seringkali kurang percaya diri. Terutama ketika lepas dari aplikasi AI.

Aplikasi AI sekarang menjadi sangat populer. AI dapat menyaring berbagai macam informasi. AI dapat memilah dan menyusun informasi yang dibutuhkan. Tentu ini sangat memudahkan penggunanya.

Sebelum ada AI, kita perlu memasukkan kata kunci di mesin pencari. Kemudian membuka halaman satu per satu. Setiap laman perlu dibaca. Sesekali informasi yang penting dicatat. Inilah aktivitas yang bertujuan untuk menemukan informasi yang relevan.

Berselancar di mesin pencari kini sepertinya sudah ditinggalkan. Kebanyakan orang memilih "bertanya" dulu melalui AI. Baru kemudian dikonfirmasi pada laman yang muncul di mesin pencari. Bisa juga mencari apa yang tidak muncul di AI. Atau mungkin saat AI tidak berhasil menjawab atau menyajikan apa yang kita minta. Padahal biasanya ketidaktepatan jawaban AI sangat ditentukan pada kualitas prompt yang dimasukkan.

Kemudahan inilah yang kemudian memengaruhi manusia dalam mengambil keputusan. Misalnya ketika kita akan berbelanja. Kita bertanya dulu ke AI. Baru kemudian pergi ke tempat perbelanjaan untuk memeriksa apakah spesifikasi barang tersebut sama seperti yang disajikan oleh AI.

Rasa kepercayaan diri muncul seketika. Terutama ketika hal yang ingin diputuskan sudah melalui "konsultasi" dengan AI. Kepercayaan diri cenderung menurun ketika apa yang diputuskannya belum ditanyakan ke AI. Inilah bukti ketergantungan kita pada AI.

Maka, ketika muncul rasa tidak percaya diri ini menjadi suatu keistimewaan. Kesadaran akan rasa tidak percaya diri menjadi suatu refleksi. Apakah kita akan benar-benar percaya diri setelah semuanya ditanyakan ke AI? Apakah kita masih memiliki "keberanian" untuk sekedar menulis pesan WA tanpa melalui AI?

Kesadaran inilah yang menguatkan saya untuk menulis serial "menulis tanpai AI". Saya ingin membuat "jarak" dengan AI. Meski hanya beberapa saat. Dan hanya untuk sekedar menulis seperti ini. Toh ini cara saya untuk melatih logika di tengah kemudahan AI dalam menyajikan narasi informasi.


Rabu, 25 Februari 2026

Rahma Huda Putranto

Post a Comment

Previous Post Next Post

Ad 2