Ini tulisan kedua saya setelah saya mendapatkan penugasan baru. Saya mendapatkan penugasan baru pada 5 Februari 2026. Tepat 107 hari yang lalu. Selama itu pula saya tidak posting feed Instagram. Alasannya klasik, saya kehabisan waktu. Penugasan baru ini menuntut saya untuk belajar banyak hal. Benar-benar mempelajari segala sesuatunya dari nol.
Memang ada perasaan bersalah ketika profil media sosial saya tidak update. Saya merasa tertinggal. Dan kehilangan kesempatan untuk "mempertanggungjawabkan" kegiatan saya. Apalagi di era saat ini banyak yang mengaitkan ukuran dampak kinerja itu dari banyaknya "like, comment, dan share"-nya.
Perasaan bersalah ini segera terobati. Jauh sebelum saya mendapatkan penugasan baru, saya pernah berdiskusi dengan Pak Grengseng Pamuji, Bupati Magelang. Saya pernah menanyakan terkait "kerja-kerja" yang harus terpublikasi secepat mungkin. Bahkan kalau perlu "direkayasa" agar viral.
Ternyata beliau punya pandangan lain. Pak Bupati tidak mengejar viralitas. Tapi ingin keberadaannya dirasakan langsung oleh masyarakat. Biarkan masyarakat yang memposting, mengomentari, dan mendiskusikan kebijakan-kebijakannya. Biarkan viralitas itu tercipta dengan sendirinya. Tidak perlu direkayasa maupun dibuat dengan cara sesingkat-singkatnya.
Pak Grengseng punya pandangan, "biasanya yang cepat naik, cepat pula turunnya. Dan saya tidak mau itu."
Dari sini pun saya belajar. Semua yang dikerjakan tidak harus diketahui oleh banyak orang. Apalagi bidang pekerjaan saya saat ini ada di sektor perencanaan. Sektor yang benar-benar berada di balik layar. Tidak terlihat. Bahkan cenderung terlupa karena hingar-bingar pelaksanaan. Jadi, keberadaan perencana itu seperti udara. Tidak terlihat tapi dibutuhkan dan dirasakan manfaatnya secara langsung.
Perasaan untuk tidak melulu harus tampil di media sosial juga dikuatkan dengan pidato singkat di salah satu episode Ted Talks. Episode yang menghadirkan tiga pembicara, pencetus The Minimalist. Mereka telah melakukan eksperimen untuk meninggalkan media sosial selama satu tahun penuh. Media sosial ditinggalkan saat "viewer-nya" mencapai 500 juta orang. Mereka bisa. Dan kini hadir kembali dengan pemaknaan baru terkait penggunaan media sosial.
Kini saya pun akan meniru hal yang sama. Saya cenderung mengupdate blog ini. Menulis kembali. Sembari merefleksi apa yang saya lihat, rasakan, dengar, dan pikirkan.
Menulis blog juga lebih sehat. Saya tidak terjebak pada algoritma "fyp" atau segala sesuatu yang muncul di beranda layaknya ketika membuka media sosial.
Saya pun tidak merasa khawatir jika ketinggalan berita atau story orang lain. Hitung-hitung agar saya tidak FOMO. Jujur, ini lebih menyehatkan secara mental. Terutama tidak terjebak pada "scrolling-scrolling" tiada henti yang ujungnya melelahkan dan tidak pernah memuaskan.
Sampailah pada simpulan:
Kita tidak harus tahu semua,
dan semua tidak harus tahu.
Borobudur, 23 Mei 2026
Rahma Huda Putranto
