Kebanyakan Makan

Saya merasa cepat lelah. Perasaan ini muncul sejak tiga minggu terakhir. Setiap kali membuka laptop, langsung terasa kantuk. Ketika membuka buku catatan, langsung muncul alasan, makan dulu lah atau bikin kopi lah.

Lantas bagaimana dengan nasib tugas yang ada di depanmu?

Ya, sesuai dugaan dari pembaca. Tidak ada satu pun tugas yang terselesaikan. Semua tertunda. Semakin lama tugas tertunda, semakin panjang penderitaan.

Keadaan seperti ini terus berlanjut. Hingga saya memiliki kesempatan merenung. Apa yang salah dari aktivitas saya selama tiga minggu terakhir ini?

Jawabannya adalah kebanyakan makan. Intensitas saya untuk makan dan minum semakin tinggi. Saya sering mengajak rekan kantor untuk makan siang. Minum kopi. Membeli es manis, dan menikmati masakan rekan kantor yang enak sekali.

Awalnya saya mengira kalau makan dan minum ini bisa melipatgandakan energi untuk bekerja. Hasilnya tidak. Saya malah terkantuk-kantuk. Mata sulit dibuka ketika penugasan di laptop dibuka.

Ketika merenung, saya teringat dengan salah satu bab di buku 7 Habit for Effectively People karya Stephen R. Covey. Stephen R. Covey menjelaskan pada bab "Asah Gergaji". Yang mana aktivitas manusia dipengaruhi oleh asupan makanan ke tubuhnya.

Saya juga ingat adanya penjelasan dalam video singkat Ade Ray. Ia menjelaskan tentang ledakan insulin. Yang dalam pandangan lain disebut juga dengan istilah "Sugar Crash".

Sugar Crash adalah fenomena penurunan gula darah yang sangat drastis. Efek yang dirasakan tubuh adalah terasa lemas dan kurang fokus. Sama seperti yang saya rasakan ketika terlalu banyak makan.

Saya mendapatkan pelajaran. Fokus otak sangat dipengaruhi dengan kadar gula darah dan nutrisi. Selain itu dipengaruhi pada pasokan air yang masuk. Pasokan air yang kurang menyebabkan dehidrasi. Sementara kadar gula darah yang tinggi menyebabkan "Sugar Crash".

Maka, perasaan nyaman benar-benar saya rasakan saat menjalankan Puasa Arafah kemarin. Saya bisa lebih fokus menghadapi pekerjaan. Tidak terganggu dengan penundaan hanya karena belum makan. Selanjutnya, perlu mengatur jenis dan ukuran makanan yang masuk ke tubuh.


Borobudur, 27 Mei 2026

Rahma Huda Putranto

Post a Comment

Previous Post Next Post

Ad 2