Senyap Bermanfaat


Mas-mbak sub bagian program semua, terima kasih. Kita berhasil melewati gelombang yang datang bertubi selama satu minggu terakhir ini. Gelombang itu datang beriringan. Saling menghantam, yang kadang memunculkan gelombang yang sulit untuk dipahami. Apalagi dikendalikan.

Beberapa waktu yang lalu kita menghadapi anomali data kepala sekolah. Ada pula ketidakvalidan informasi yang tertera di dapodik. Akibatnya, sekolah tidak dapat melakukan sinkronisasi data.

Hasil inventarisasi teman-teman, ditemukan adanya 95 kepala sekolah yang datanya sedang "tidak baik-baik saja". Bila di-klaster dari sisi persoalan yang dihadapi maka ada 57 data KS yang mengalami anomali karena "aliran" data dari aplikasi KSPSTK ke Dapodik. 12 kepala sekolah yang datanya berubah. Sementara ada 32 kepala sekolah yang tidak bisa sinkron karena data di dapodik belum menjadi "kepala sekolah".

Situasi di atas mengakibatkan data di dapodik invalid. Senyampang dengan itu, operator sekolah tidak dapat melakukan sinkronisasi data. Dampaknya apa? tentu berdampak pada "nasib" data guru, peserta didik, rombel, dan statistik sarana-prasarana sekolah. Katanya, yang terakhir ini bisa mempengaruhi sekolah dalam proses pengusulan revitalisasi sekolah.

Saya coba berhitung, berapa jumlah spesifik yang mungkin terdampak dari 95 kepala sekolah yang datanya yang tidak valid ini. Total data guru, tendik dan peserta didik yang tidak bisa disinkronisasi berturut-turut sejumlah 869 guru, 257 tendik, dan 15.729 murid. Murid tersebut tergabung dalam 744 rombel.

Melihat data dampak yang sangat banyak, maka perlu adanya solusi cepat dan tepat. Komunikasi dengan provinsi pun dilakukan oleh rekan-rekan sub bagian program. Mentok. Hanya dapat menunggu.

Kami pun mencoba menjalin komunikasi dengan pusat. Alhamdulillah, seorang senior mau untuk membantu. Staf beliau memberi fasilitas Zoom kepada kami. Diundang pula personil Tim Dapodik Pusat. Ditunjukkan bagaimana menyelesaikan data 95 kepala sekolah tersebut. Zoom singkat ini dapat menyelesaikan 2 data invalid kepala sekolah. Selanjutnya kami diminta mengirimkan data sisanya.

Satu minggu berselang. Tidak ada kabar. Gelombang kembali muncul. Datang dari langit. Yang tentu ini menjadi kode keras bahwa persoalan data invalid ini harus segera diselesaikan. Belum lagi adanya ketentuan bahwa setiap tanggal 10 menjadi hari terakhir untuk memperbaharui data guru untuk mendapatkan tunjangan profesi.

Waktu terus berjalan. Jumat sore kami memutuskan untuk menjelaskan situasi ini kepada pimpinan. Pimpinan pun mendukung gagasan kami untuk pergi ke Jakarta. Kami ungkapkan juga kemungkinan tambahan yang bisa diperoleh dari perjalanan ini. Setidaknya kami bisa menjalin komunikasi dengan tim dapodik pusat, direktur SMA Kemendikdasmen, pengembang aplikasi, dan Pusdatin.

Kami juga ungkapkan apa yang menjadi atensi kami ketika tidak berada di Magelang pada saat-saat tersebut. Pimpinan pun memberikan pertimbangan. Yang memang perbaikan data ini perlu diperjuangkan. Berkaitan dengan apa yang ada di Magelang, pimpinan akan turut serta membantu.

Ada pula permintaan baru agar sub bagian program juga turut serta membantu desk e-ijazah. Untuk mensukseskan proses desk ini, perbaikan data semakin diperlukan. Konsep awal yang ditawrkan kepada kita adalah saat SPMB SD, desk e-ijazah SMP dilakukan. Lalu, saat SPMB SMP, desk e-ijazah SD dilakukan.

Tanggal 10 yang semakin mendekat, tentu membuat perjalanan ke Jakarta semakin mendesak. Rekan-rekan bermusyawarah. Hasilnya cukup membuat saya terharu. Kami memutuskan untuk berangkat pada hari Ahad. Hari yang biasa digunakan oleh rekan-rekan untuk beristirahat dan menggunakan waktu bersama keluarga.

Pulangnya pun Rabu dini hari. Sudah disambut dengan desk e-ijazah. Yang ternyata secara jadwal, akan melibatkan kurang lebih 250 SD dari beberapa kecamatan di Kabupaten Magelang. Pelaksanaan desk sampai benar-banar larut. Maghrib belum selesai. Apalagi pada hari-hari tersebut adalah pelaksanaan SPMB SMP. Rekan-rekan harus menyelesaikan verval prestasi, melayani pertanyaan pada nomor helpdesk.

Pilihan ini yang diambil secara sadar. Konsekuensinya, sepanjang perjalanan dari Magelang-Jakarta, HP tetap menyala. Melayani segala bentuk pertanyaan bagi dari calon murid baru maupun orang tuanya. Laptop pun menyala. Memantau pergerakan data dapodik. Apakah sudah ada perbaikan atau belum.

Kejadian hari Rabu hingga Jumat ternyata penuh gelombang. Begitu pula hari Ahad hingga Rabu saat di Jakarta. Kami membagi menjadi tiga tim. Tim pertama menuju kantor Direktorat SMA di Cipete, tim kedua melakukan advokasi perbaikan data di Gedung E Lantai 5. Tim Ketiga melakukan komunikasi dengan Pusdatin yang difasilitasi oleh sekretariat Kemendikdasmen. Dan tim keempat menyelesaikan urusan terkait aplikasi.

Tulisan di atas hanya menceritakan sekilas tentang gelombang yang rekan-rekan sub bagian program hadapi. Saya sengaja tidak menuliskan tiupan angin yang berlalu lalang di depan, disamping, di atas, di bawah, ataupun di belakang kami.

Yang paling utama, saya merasa bangga bahwa tim sub bagian program ini berhasil melewati banyak gelombang. Oh iya, ada juga gelombang berupa tagihan AKIP dan input aplikasi SCOB. Rekan-rekan terbukti bakoh. Tangguh dan kokoh. Tidak menyerah meskipun harus berjibaku di atas kendaraan. Bahkan sampai di penginapan, rekan-rekan tidak langsung tidur. Tapi memberikan pelayanan kepada para calon murid baru.

Saya juga senang, rekan-rekan tidak saling melempar tanggung jawab. Panjenengan semua saling menopang. Saling menguatkan. San tetap mengedepankan kepala dingin untuk menyelesaikan target di tengah gelombang, tiupan angin, dan badai ini.

Rasa lelah baik yang dirasakan secara fisik maupun mental pasti dirasakan oleh teman-teman. Rekan-rekan sub bagian program sudah menuaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Tidak menuntut pujian, pengakuan, ataupun apresiasi. Panjengenan semua tetap fokus pada ikhtiar bagaimana memberikan pelayanan dan eksekusi program secara optimal. Rekan-rekan menunaikan tanggung jawab tanpa menghitung untung-rugi. Ini sama seperti yang saya katakan pada briefing pertama di kantor Disdikbud tepat sebelum berangkat ke Kemendikdasmen, "Karmanye Vadikaraste Mafalesu Kadatjana."

Saya sesekali merasa bersalah karena tidak bisa mengatur ritme pekerjaan rekan-rekan. Padahal seharusnya saya bisa mengelola penugasan yang datang. Namun, semuanya terasa penting dan mendesak. Yang pada akhirnya, saya mengiyakan. Padahal ada ukuran prioritas yang bisa digunakan untuk mengatur ritme kerja rekan-rekan. Ke depan, saya perlu belajar kembali terkait prinsip kerja birokrasi. Prinsip birokrasi ada pada disposisi, koordinasi, dan arahan. Ini barang baru yang perlu saya update keterampilannya.

Selamat berakhir pekan. Istirahat dan siapkan tenaga. Semoga kembali pulih untuk agenda minggu depan.

Terakhir, saya salut kepada rekan-rekan sub bagian program yang bekerja penuh keikhlasan. Tidak mencari panggung atau hingar bingar. Namun, rekan-rekan bekerja di balik layar dengan tenang, mengeksekusi rencana dengan akurat, dan membiarkan hasil kerja tersebut memberikan manfaat nyata. Senyap, tepat, bermanfaat.

"Tiada daya dan upaya selain pertolongan dari Allah SWT."

Sorlem, 12 Juni 2026

Rahma Huda Putranto.

(Ditulis tidak menggunakan AI, tulus dari hati)

Post a Comment

Previous Post Next Post

Ad 2