Bernilai Lebih

 Saya sempat kecewa. Hati saya terasa masyghul. Perasaan ini muncul saat kasir suatu toko menolak uang saya. Selembar uang pecahan sepuluh ribu ini tidak bisa diterima. Harus diganti yang lain. Alasannya, lembaran uang ini berselotip. Tanda pernah robek.


Emosi saya hampir meledak. Tapi tertahan karena sedang bersama anak pertama saya, Rafi namanya. Saya ingin menjelaskan ke kasir dengan sejelas-jelasnya. Bahwa meskipun sobek, uang ini tetap bernilai. Bahkan saya ingin menjelaskan, kalau nilainya lebih dari angka yang tertera.


Nilai uang ini semakin berlipat ganda. Apalagi ketika dijelaskan bagaimana cara memperolehnya. Uang ini diperoleh dengan cucuran keringat. Bahkan "darah". Belum lagi kalau merunut riwayat pemegang selembar uang 10 ribu ini. Mungkin pernah dipegang tukang parkir, tukang becak, dan sebagainya. Nilai semakin membumbung tinggi, ketika kita tahu mengapa uang kertas ini bisa sobek dan diisolasi.


Saya berupaya meredam emosi. Uang lembaran lain tidak saya serahkan. Saya berkeyakinan kalau lembaran uang yang lain pasti punya nilai lebih. Lalu bagaimana cara saya membayar?


Saya bayar pakai QRIS. Cara pembayaran yang sangat modern. Saya menyebutnya dengan K.E.R.I.S. Tidak seperti kasir ini yang menyebutnya dengan K.I.Y.U.R.I.S. Penyebutan yang dilakukan kasir terasa lebih betul. Meski literatur di Google tidak membenarkan penyebutan itu.


Uang digital yang ada dibayarkan melalui QRIS hanya disimbolkan dengan angka. Sangat digital. Tidak sama seperti uang kertas tadi. Otomatis uang digital ini tidak memiliki potensi "nilai lebih". Tidak ada nilai historis yang muncul karena peristiwa yang dilaluinya.


Ya begitulan dunia digital. Semuanya disimbolkan dengan angka, huruf, karakter, suara, dan warna. Semuanya terlihat dan dapat terlintas di pikiran. Tapi tidak bisa disentuh dan diraba. Lantas mana yang lebih bernilai?


Ruang kerja, 17 Agustus 2026

Rahma Huda Putranto

Post a Comment

Previous Post Next Post

Ad 2