Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Belajar dari Wawancara Dubes Indonesia untuk Korea Utara: Berita Resmi Itu Membuat Nyaman

Tayangan Aiman di Kompas TV malam ini menarik (04/05/2020). Aiman untuk pertama kali mewawancarai Duta Besar Indonesia untuk Korea Utara. Wawancara ini dilakukan dari dua tempat berbeda. Dubes Indonesia untuk Korut live di Pyongyang, sedangkan Aiman di Studio Kompas TV Jakarta.

Wawancaranya menarik. Ketertarikan saya tertuju pada cara Dubes Indonesia untuk Korea Utara, Berlian Napitupulu atas pertanyaan-pertanyaan Aiman. Jawabannya sangat formal dan rigid. Semua jawabannya bersumber dari pemberitaan resmi pemerintah Korea Utara.

Contoh jawaban-jawaban itu ada pada dua pertanyaan yang berkesan bagi saya. Pertama, tentang kesehatan Pemimpin tertinggi Kim Jong Un yang beberapa waktu yang lalu sempat "menghilang". Kedua, tentang kondisi Korea Utara ketika Covid-19 melanda dunia.

Pertanyaan pertama tentang kondisi kesehatan Kim Jong Un, sang Dubes menjawab bahwa kesehatan Kim Jong Un baik-baik saja. Kim Jong Un telah tampil di publik dengan keadaan sehat dan dapat berdiri serta berjalan tanpa bantuan. Isi jawaban ini sama seperti pemberitaan di media online terpercaya. Kesamaan jawaban Dubes dan media online disebabkan karena berasal dari sumber yang sama, yaitu berita resmi dari pemerintah Korea Utara.

Seperti yang diduga, jawaban pertanyaan kedua juga sama dengan keterangan resmi dari pemerintah Korea Utara. Sebelumnya diberitakan bahwa Korea Utara menjadi negara yang bebas dari pandemi Covid-19. Pada wawancara ini Dubes Indonesia untuk Korea Utara juga menegaskan bahwa bila merujuk dari keterangan resmi Pemerintah Korea Utara, di Korea Utara tidak ada satupun orang yang positif Corona.

Luar biasa pikirku. Reaksi Aiman yang seolah tidak percaya mewakili pikiranku. Reaksi ini menyulut tambahan keterangan dari Dubes Indonesia untuk Korea Utara ketika acara akan segera diakhiri.

Keterangan yang berisi pembelaan itu berisi sebab mengapa Korea Utara tidak terjangkit Covid-19. Dubes Indonesia untuk Korea Utara mengatakan bahwa Pemerintah Korea Utara sejak akhir Januari telah ada upaya melindungi warganya  dengan menutup perbatasan dan menghentikan transportasi umum.

Dari wawancara di atas, kita dapat belajar. Bahwa ada enaknya juga lho menyampaikan jawaban berdasarkan berita atau keterangan resmi. Keterangan resmi ini lebih pasti karena tidak bercampur asumsi dan penafsiran pribadi. Seperti yang kita ketahui, asumsi dan penafsiran lah yang sering menimbulkan kegaduhan.

Lihat saja di media-media kita. "Ujug-ujug" muncul seorang dengan sebutan "pengamat",  "ahli", atau "pemimpin ormas atau komunitas" yang sebelumnya tidak pernah kita dengar namanya. Dari "keahlian" dan "pengamatannya" tak jarang timbul tafsir-tafsir atau asumsi baru yang membuat gaduh. Padahal di tengah pandemi ini kita perlu ketenangan hati, jiwa dan pikiran.

Belum lagi tafsiran dan asumsi yang muncul itu diiringi dengan hoaks. Hoaks yang entah berasal dari mana itu memperparah kondisi kejiwaan kita. Yah, di satu sisi dari wawancara itu kita bisa merasakan betapa nyamannya kalau apa yang kita sampaikan adalah sesuatu yang resmi dan berasal dari otoritas yang terpercaya. Oh iya, Soal sikap warga negara yang harus kritis, itu soal lain.

Comments

Baca Juga