Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Ilmu Agar Tidak Menjadi Bagian Dari 360 Ribu Sarjana Yang Menganggur

Banyak di antara kita yang puas setelah lulus dari bangku kuliah. Kita sering merasa cukup dengan ilmu yang diperoleh. Padahal ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah tersebut belum cukup untuk mengarungi kerasnya hidup. Sehingga banyak alumni perguruan tinggi yang tidak siap kemudian “berevolusi” menjadi pengangguran.
Pengangguran sarjana atau lulusan universitas pada Februari 2013 mencapai 360 ribu orang, atau 5,04% dari total pengangguran yang mencapai 7,17 juta orang (Badan Pusat Statistik). Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar (dalam okezone.com) mengatakan sarjana lulusan perguruan tinggi, tak bisa lagi hanya mengandalkan ijazah dalam mencari pekerjaan. Sarjana dituntut memiliki kompetensi dan keterampilan kerja yang baik, sehingga dapat terserap pasar dengan cepat.
Berdasarkan pendapat di atas pengangguran yang berasal dari lulusan universitas disebabkan karena fokus pengembangan diri hanya berkaitan dengan kerja. Hal ini terlihat dari sikap pencari kerja yang hanya mengandalkan ijazah. Padahal masih banyak bidang-bidang keilmuan yang harus dipelajari.
Budiyanto (2012) mengungkapkan bahwa paling tidak ada tiga bidang keilmuan yang harus dikuasai, yaitu:
  1. Ilmu yang terkait dasar-dasar pembentukan karakter dan potensi diri kita. ilmu-ilmu yang termasuk dalam kategori ini bisa bersumber dari agama atau ilmu-ilmu pengembangan diri.
  2. Ilmu yang terkait dengan penguatan hubungan sosial kita. Yang termasuk dalam kategori ini adalah ilmu-ilmu humaniora. Kita perlu mempelajari psikologi, politik, ilmu komunikasi, parenting, dan sebagainya.
  3. Ilmu yang berhubungan dengan pengembangan profesi kita. ilmu-ilmu ini berhubungan dengan profesi yang akan digeluti. Jika kita ingin menjadi seorang guru, maka kita harus menguasai bidang pendidikan dan bidang spesialisasi yang terkait. Biasanya ilmu-ilmu yang kita pelajari di ruang kuliah merupakan bidang spesialisasi yang akan digeluti.
Dengan hanya mengandalkan ilmu yang berasal dari perguruan tinggi, tentulah sangat kurang. Sebaiknya kita mulai memetakan ilmu-ilmu apa saja yang harus kita pelajari. Agar kita dapat dengan cepat dan sigap dalam menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis. Selain itu, kita dapat memenuhi kebutuhan stakeholder yang berupa kebutuhan profesional (profesional needs), kebutuhan masyarakat (social needs), kebutuhan kerja (industrial needs) dan kebutuhan generasi masa depan (scientific vision).

Oleh karena itu, dengan dikuasainya berbagai macam ilmu, maka kita siap menghadapi tantangan zaman, memenuhi kebutuhan zaman dan tidak menjadi bagian korban zaman dengan menjadi pengangguran.

Bacaan:
Budiyanto, Dwi. Prophetic Learning Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian. Yogyakarta: Pro-U Media.
http://news.okezone.com/read/2013/05/29/337/814724/360-ribu-sarjana-jadi-pengangguran yang diakses pada 26 Mei 2014 jam 20.36 WIB

Comments

Baca Juga