Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Pelampiasan Hasrat "Me Time" Ibu: dari Emosional ke Rasional





Pagi ini secara tidak sengaja penulis melihat sebuah postingan infografis. Yang isinya berkaitan dengan tema Risiko Jika Ibu Tidak Punya “Me Time”. Rangkaian infografis tersebut terdiri dari 5 gambar termasuk 1 judul besar. Adapun isi infografis tersebut adalah (1) Menyimpan depresi, ibu tidak bisa menyalurkan keinginan sehingga mudah stres dan depresi; (2) Melampiaskan Kemarahan pada Anak, Stres dan depresi membuat kerap melampiaskan amarah pada anak; (3) Sering bertengkar dengan suami, ada rasa tidak puas dalam diri ibu sehingga kerap kali dilampiaskan kepada suami; (4) Jadi? Ibu tetap perlu “me time”, shooping, merawat diri dan berjalan-jalan sejenak bisa membantu ibu mengurangi stres!


Risiko sering kita dengar di kehidupan sehari-hari. Kata risiko sering dirangkai dengan hal-hal yang berpotensi buruk namun dapat dicegah dengan tindakan-tindakan tertentu. Misal, di daerah pegunungan sering ada himbauan terkait risiko tanah longsor. Risiko tanah longsor ini biasa diiringi dengan himbauan pencegahan berupa reboisasi, membuat terasering dan lain sebagainya.


Rangkaian infografis ini memang berisi “bahaya” yang bisa terjadi ketika ibu tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Yang kemudian di akhir infografis ini dideskripsikan bahwa “me time” seorang ibu berupa kegiatan “shooping, merawat diri dan berjalan-jalan”. Saya merasa kasihan kalau ada seorang ibu yang menagih suaminya kegiatan-kegiatan tersebut. Padahal kegiatan tersebut identik dengan pengeluaran golongan keluarga penghasilan menengah ke atas.


Sehingga dirasa perlu untuk merumuskan langkah-langkah praktis agar ibu dapat rehat sejenak tanpa merugikan anak atau anggota keluarga yang lain. Bentuk tindakan yang merugikan anak yang terpampang jelas di infografis ini berupa pelampiasan kemarahan pada anak. Bentuk pelampiasan seperti ini juga berisiko. Dan risiko pelampiasan amarah yang tidak tepat lebih berbahaya daripada sekedar risiko tidak punya me time. Secara sederhana, pelampiasan amarah menyebabkan dua pihak rugi, yaitu anak dan ibu itu sendiri.


Adapun rumusan praktis apabila ibu memang benar-benar ingin “me time” dengan melakukan kegiatan sendiri tanpa mau diganggu adalah:
1. Titipkan anakmu ke suami
2. Apabila suami sibuk bekerja, titipkan anak ke orang tua
3. Namun apabila orang tua menolak, antar anak ke tempat penitipan anak
4. Bila tidak punya biaya membayar jasa tempat penitipan anak, ajak anak ke panti asuhan.

Langkah-langkah di atas juga beresiko, namun lebih baik, daripada anak dijadikan sebagai tempat pelampiasan sikap-sikap yang tidak perlu bahkan cenderung negatif. Bahkan nada suara membentak pun sangat perlu dihindarkan dari ruang pendengaran anak.


Rumusan praktis berupa penitipan anak ke pihak lain yang dapat dipercaya lebih baik bagi anak daripada dijadikan pelampiasan. Karena menurut kajian psikologi perkembangan, terutama di bagian yang membahas kebutuhan anak usia dini, maka akan ditemukan konsep yang bernama KELEKATAN atau ATTACHMENT.


Kelekatan ini sangat dibutuhkan oleh anak karena anak butuh pemenuhan kebutuhan fisik dan psikologisnya. Kelekatan yang terpenuhi dengan baik berdampak pada anak akan memiliki rasa percaya diri dalam mengeksplorasi lingkungannya, tidak mudah merasa khawatir di lingkungan baru dan juga memiliki kemampuan adaptasi yang baik (Hardiyanti, 2017).


Kelekatan ini harus dipertahankan. Dan sebagai tindak lanjut dari “me time” ibu tadi, kelekatan tidak harus diperoleh dari ibunya. Bisa juga diberikan oleh pihak lain yang mengasuhnya. Sehingga sekali lagi, menitipkan anak lebih bijak daripada anak dijadikan pelampiasan sikap negatif.



Setelah dititipkan, silahkan lampiaskan “me time” itu. Namun tanyakan pada hati nurani ibu ketika me time dengan meninggalkan anaknya. Apakah ada rasa rindu kepada anakmu. Apabila tidak ada rasa rindu, ...... (mohon pembaca mengisi titik-titik ini sendiri)


Rekomendasi bahan bacaan selain infografis di atas:
HARDIYANTI, Dwi. PROSES PEMBENTUKAN KELEKATAN PADA BAYI. PAWIYATAN, [S.l.], v. 24, n. 2, p. 63-68, dec. 2017. Available at: <http://e-journal.ikip-veteran(dot)ac(dot)id/index.php/pawiyatan/article/view/560>. Date accessed: 17 jan. 2018.



Comments

Baca Juga