Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Jangan Mau Diperbudak "Manajemen Waktu" Tiru Generasi Keempat

Setiap generasi memiliki cara masing-masing dalam mengatur agenda dan waktu yang tersedia. Menurut Stephen R. Covey, setidaknya terdapat empat generasi bila dikelompokkan berdasar cara mengatur waktu dan agenda. Pembagian ini terinspirasi dari buku The 7 Habits of Highly Effective People.

Generasi pertama menggunakan catatan dan daftar periksa (check list). Generasi pertama menganggap bila semua daftar periksa telah "dicentang" atau telah dilalui, maka hari-harinya berjalan dengan baik.

Generasi kedua cenderung terpaku pada kalender dan daftar janji. Generasi kedua telah berupaya memperhatikan masa depan melalui penggunaan kalender. Selain itu daftar janji sebagai alat bantu mengingat agenda penting.

Sedangkan generasi ketiga telah mampu membuat perencanan dengan memperhatikan prioritas. Generasi ketiga menuliskan agendanya dalam "planners". Sehingga hidup mereka diatur sampai ke penggunaan waktu di tingkat menit.

Generasi keempat juga menggunakan cara-cara yang sama dengan generasi ketiga. Bedanya terletak pada "keluwesan". Generasi keempat tidak mau terkekang pada "manajemen waktu". Artinya setiap aktivitas hidupnya terkesan kaku karena adanya batasan waktu dalam bentuk agenda yang padat.

Generasi keempat lebih mementingkan pengaturan diri sendiri daripada hanya terpaku pada pengaturan waktu. Karena hakikatnya yang perlu diatur adalah diri mereka sendiri, bukan waktu yang mengatur diri ini.

Selanjutnya, generasi keempat melakukan pengaturan waktu dan agenda menyesuaikan prioritas atas nilai-nilai kemanusiaan. Generasi keempat juga membuat jadwal waktu berdasarkan prioritas. Akan tetapi tetap memperhatikan prioritas yang lebih penting daripada pembagian-pembagian waktu yang kaku.

Misalnya, ketika generasi keempat dihadapkan pada suatu keadaan dimana ia benar-benar membutuhkan istirahat. Maka ia akan beristirahat dan melepaskan diri dari agenda-agenda yang telah ditetapkan di atas kertas. Karena mereka sadar kalau hidupnya tidak boleh dibatasi pada agenda-agenda yang telah terjadwal. Disini prinsip keseimbangan "P dan KP" terjadi.

Generasi keempat lebih mementingkan nilai-nilai daripada benda atau materi yang terbungkus "jadwal manajemen waktu". Oh iya, Apa itu P dan KP? InsyaAllah akan penulis jelaskan di artikel yang lain.

Borobudur, Senin, 16 Desember 2019

Comments

Baca Juga