Featured Post
- Get link
- X
- Other Apps
Komitmen Proaktif
Bulan November ini menjadi hari-hari yang sibuk. Tugas-tugas besar silih berganti harus ditunaikan. Jeda antar tugas cukup rapat. Semua bentuk penugasan menuntut kesempurnaan. Maka wajar jika segala daya upaya tercurahkan pada pemenuhan berbagai macam tugas tersebut.
Segala energi terfokus pada pemenuhan kewajiban. Tujuannya satu, tertunaikan tugas ini dengan sebaik-baiknya. Saking fokusnya, banyak tugas lain tidak tertunaikan. Pada sisi yang lain, dapat dikatakan kini terjadi ketidakseimbangan hidup.
Ketidakseimbangan terlihat dari hilangnya kebiasaan yang sudah terbangun sebelumnya. Padahal kebiasaan-kebiasaan ini yang selama ini menopang produktivitas. Misalnya, kebiasaan mencatat cashflow, menulis refleksi, merenung, dan sebagainya.
Pada sudut pandang ini saya menganggapnya sebagai kegagalan. Awalnya saya dalam menghadapi situasi ketidakseimbangan ini tidak begitu saja mau menerima. Karena kenyataan yang ada tidak sejalan dengan keinginan. Disinilah masalah muncul.
Kembali Ke Jalur
Saya tertegun menghadapi ketidakseimbangan hidup ini. Ingatan saya tertuju pada suatu cuplikan video Rafi Ahmad. Ia sedang diwawancarai pada suatu talkshow program TV. Ia menceritakan kebiasaan hariannya. Mulai dari bangun tidur, beraktivitas rutin, dan kapan beristirahat. Uniknya, Rafi Ahmad tidak menampik kalau masih sering "keluar" dari "track".
Ada godaan yang membuatnya "keluar" dari jalur yang semestinya. Rafi Ahmad menjelaskan kalau melenceng dari jalur ini sering terjadi. Lantas apa yang Rafi Ahmad lakukan? Jawabannya terlontar seketika pewawancara bertanya padanya. "Apa yang kamu lakukan saat keluar dari jalur?"
"Ya, Kembali ke jalur secepatnya," begitu kata Rafi Ahmad.
Dari cerita wawancara ini saya kemudian mencoba untuk berefleksi. Saya mengidentifikasi kembali, apa saja yang mungkin bisa disebut "keluar jalur" pada konteks kehidupan saya. Hasilnya, ada banyak. Banyak hal yang bisa diidentifikasikan saya keluar dari jalur. Mulai dari kehidupan spiritual hingga jalinan sosial dengan sekitar.
Ternyata, sikap mental perlu dipersiapkan untuk melakukan refleksi seperti ini. Proses identifikasi ini membutuhkan keberanian. Sebab, secara alami, diri ini menolak untuk disalahkan. Padahal kesalahan akan sangat mungkin terjadi. Karena pengidentifikasian ini akan menyentuh kenyataan yang tidak sesuai kenyataan.
Singkat cerita, saya berhasil mengidentifikasi hal-hal yang mengindikasikan saya keluar jalur. Saya tentu tidak membeberkan aa saja hal yang yang keluar dari jalur kehidupan saya. Sebab, ini akan membuat pembaca tidak nyaman.
Namun, lebih kurang ada tiga hal yang bisa diambil hikmah oleh para pembaca. Pertama, sikap mental yang perlu dikedepankan setelah mengetahui hal-hal ini adalah menerima. Langkah kedua, bersikap proaktif dengan membuat komitmen. Ketiga, menguatkan integritas untuk menjalankan komitmen tersebut. Inilah tiga hal yang saya serap dari kata pengantar Stephen R. Covey pada pengantar buku The 7 Habits of Highly Effective People edisi tahun 2024.
Pasar Beringharjo, 30 November 2025
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment